HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Peringatan tahun ini berlangsung ketika batik semakin dekat dengan generasi muda, salah satunya melalui tren berkain yang membuat kain tradisional hadir dalam gaya berpakaian sehari-hari.
Berkain kini tidak lagi hanya identik dengan acara resmi. Anak muda mulai memadukan kain batik dengan kemeja, kaus, blazer hingga sepatu kets untuk menciptakan gaya yang lebih kasual.
Perubahan tersebut juga didukung oleh perkembangan industri fesyen. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut penggunaan batik kini tidak terbatas pada busana adat dan pakaian formal, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, termasuk di kalangan generasi muda.
Namun, semakin dekatnya batik dengan anak muda belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi orang-orang yang membuatnya. Di balik tren penggunaan batik yang terus berkembang, industri ini menghadapi persoalan regenerasi perajin.
Batik Makin Dekat dengan Anak Muda
Tren berkain membuat kain tradisional semakin mudah ditemukan dalam berbagai gaya. Kain batik tidak harus dikenakan sebagai bawahan kebaya atau pakaian resmi, tetapi dapat dipadukan dengan busana modern untuk berbagai aktivitas.
Perkembangan tersebut membuka ruang bagi batik untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Kemenperin juga mendorong pelaku industri batik mengembangkan produk siap pakai atau ready-to-wear, aksesori hingga produk kriya agar dapat mengikuti kebutuhan dan tren pasar tanpa kehilangan identitas budaya.
Media sosial turut membuat eksplorasi gaya berkain semakin mudah menyebar. Anak muda dapat melihat berbagai cara mengenakan kain, mencari inspirasi padu padan, hingga memperkenalkan gaya mereka sendiri.
Bagi industri batik, kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan batik kepada konsumen yang sebelumnya mungkin menganggapnya sebagai pakaian untuk acara tertentu.
Saat Batik Makin Populer, Perajin Malah Berkurang
Persoalan muncul ketika perkembangan pasar tersebut dibandingkan dengan jumlah perajin. Data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) yang dikutip Kemenperin menunjukkan jumlah perajin batik turun sekitar 20 persen, dari sekitar 131 ribu orang pada 2019 menjadi 105 ribu orang pada 2023.
Kemenperin menyebut persoalan regenerasi menjadi salah satu tantangan yang perlu segera ditangani. Sebab, proses membatik membutuhkan keterampilan tangan yang tidak dapat dilepaskan dari proses pewarisan pengetahuan dan keterampilan antargenerasi.
Persoalan tersebut juga terjadi dalam sektor wastra dan kriya secara lebih luas. Bank Indonesia mencatat sektor ini, yang mencakup batik, tenun, songket dan sejenisnya, ditopang sekitar 47.700 unit usaha dengan 1,5 juta tenaga kerja.
Namun, mayoritas pengrajin di sektor tersebut berusia lanjut. Sementara itu, transfer keterampilan dan kepemimpinan usaha kepada generasi berikutnya masih berjalan lambat.
Artinya, persoalan batik tidak berhenti pada bagaimana membuat masyarakat tertarik mengenakan batik. Ada keterampilan di balik kain tersebut yang juga harus tetap hidup.
Siapa yang Akan Meneruskan Batik?
Regenerasi perajin menjadi salah satu isu yang disoroti dalam peringatan Hari Batik Nasional 2026. Kementerian Perindustrian mendorong generasi penerus untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan industri batik.
Keterlibatan generasi muda pun tidak selalu harus diwujudkan dengan menjadi pembatik. Mereka dapat mengambil peran melalui desain, pengembangan produk, pemasaran, kewirausahaan, teknologi hingga promosi batik melalui ruang digital.
Bank Indonesia juga melihat generasi muda memiliki peran dalam mendorong inovasi dan regenerasi di sektor wastra dan kriya. Kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi dan membaca perkembangan pasar dapat membantu produk budaya menjangkau konsumen yang lebih luas.



