HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sejumlah bencana alam sampai dengan saat ini masih melanda sejumlah provinsi di Indonesia. Sejumlah kerusakan hingga warga ikut terdampak bencana alam.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, bencana banjir hingga angin kencang masih mendominasi sejumlah bencana alam yang terjadi beberapa hari terakhir.
Seperti kondisi banjir terjadi terjadi di Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara pada Kamis (12/3). Lokasi terdampak berada di Desa Waisaka Kecamatan Mangoli Utara Timur.
“Sedikitnya 35 unit rumah mengalami kerusakan dan satu unit jembatan dilaporkan ambruk,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Sabtu (14/3).
“Kondisi terkini banjir sudah surut,” imbuhnya.
Kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Banjir dilaporkan terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada Kamis (13/3).
Limpasan air berdampak hingga dua lokasi yakni Kecamatan Palibelo dan Kecamatan Wera. Sedikitnya 587 jiwa terdampak dan 165 unit rumah turut tergenang. Banjir juga berdampak pada satu fasilitas ibadah, satu fasilitas umum, dan tiga akses jalan.
“Kaji cepat sementara dilaporkan banjir sudah surut,” ujarnya.
Beralih ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan mengalami banjir akibat luapan sungai Nunusunu. Luapan sungai ini berdampak di Desa Toineke, Tuafanu dan Kiufatu Kecamatan Kualin.
“Kaji cepat sementara dilaporkan 430 rumah tergenang dan 1582 jiwa terdampak. Kondisi sungai saat ini sudah normal kembali,” tukasnya.
Selain banjir, kejadian angin kencang juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Fenomena ini terjadi pada Selasa (10/3) saat hujan intensitas tinggi disertai angin kencang menerjang Desa Kesumadadi Kecamatan Bakri.
“Sebanyak 21 rumah rusak dengan rincian 3 rumah rusak berat dan 18 rumah rusak ringan,” terangnya.
Menyikapi rangkaian bencana tersebut, Abdul mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bencana, khususnya bahaya hidrometeorologi basah.
“Warga yang tinggal di daerah bantaran sungai juga diminta untuk rutin memantau ketinggian muka air serta memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi,” imbaunya.
“Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, masyarakat diimbau untuk melakukan evakuasi mandiri dan mengetahui jalur evakuasi yang aman,” sambungnya.

