MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

Tren Ekstrem Jepang: Rebahan di Peti Mati Demi Kesehatan Mental

2 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Fenomena unik tengah viral di Jepang. Tren ini dikenal dengan sebutan coffin-lying atau berbaring di dalam peti mati sebagai metode meditasi untuk menemukan ketenangan dan refleksi diri.

Awalnya, layanan ini ditawarkan oleh sebuah rumah duka di Prefektur Chiba. Namun, konsep tersebut berkembang menjadi tren yang diminati kalangan pencari ketenangan zen.

- Advertisement -

Perusahaan bernama Grave Tokyo kemudian menghadirkan peti mati berwarna-warni yang dirancang khusus untuk pengalaman meditasi.

Berbeda dari kesan menyeramkan, peti mati ini justru dibuat dengan desain cerah dan estetik. Klien dapat memilih berbaring di peti terbuka atau tertutup selama 30 menit. Biayanya sekitar Rp217.000 per sesi.

- Advertisement -

Bahkan tersedia opsi melodi “penyembuhan”, video proyeksi di langit-langit, atau keheningan total.

Konsep ini disebut terinspirasi dari budaya Jepang yang mengenal kuyō, yakni upacara peringatan untuk mengenang dan merefleksikan kehidupan. Praktik tersebut menekankan kesadaran akan kefanaan hidup sebagai cara menghargai momen saat ini.

Desainer sekaligus pembuat peti mati kustom dari Grave Tokyo, Mikako Fuse, menjelaskan filosofi di balik tren ini.

“Saya telah melihat banyak orang yang berpartisipasi dalam pengalaman berbaring di peti mati Grave Tokyo yang telah mengurangi atau meredakan pikiran mereka tentang kematian,” kata Fuse dalam siaran pers.

“Sebelum memilih kematian yang tidak dapat dibalikkan, saya ingin mereka mengalami kematian yang dapat dibalikkan,” sambungnya.

Menurut Fuse, pendekatan imajinatif terhadap perlengkapan pemakaman membantu orang melihat bahwa “kematian itu cerah dan tidak begitu menakutkan”, sekaligus menjadi pengingat bahwa hidup layak dijalani.

Pada 2024, Fuse bahkan menggelar lokakarya di universitas di Kyoto untuk mengajak mahasiswa mencoba pengalaman ini.

Sejumlah peserta mengaku simulasi tersebut memberi ruang refleksi diri, mengurangi kecemasan, bahkan memunculkan kembali semangat hidup.

Meski menuai kontroversi—terutama karena meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pemuda Jepang—pendukung tren ini meyakini latihan kesadaran terhadap kematian dapat berdampak positif bagi kesehatan mental.

Praktik meditasi sendiri memang telah lama dikenal efektif membantu mengelola stres dan kecemasan. Namun, meditasi di dalam peti mati menawarkan pengalaman yang jauh lebih simbolis menghadapi kematian untuk menemukan alasan bertahan hidup.

Apakah ini sekadar tren unik, atau benar-benar terapi reflektif yang ampuh? Jepang kembali menghadirkan cara tak biasa dalam memaknai hidup dan kematian.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
2 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru