HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Sudarto meminta agar kelompok keluarga latar belakang ekonomi mampu memilih skema beasiswa parsial ketimbang beasiswa penuh (full scholarship).
Langkah ini diambil agar alokasi anggaran beasiswa dapat dialihkan secara lebih luas kepada anak-anak cerdas dari keluarga prasejahtera yang memiliki keterbatasan finansial untuk melanjutkan studi.
Sudarto menegaskan bahwa secara aturan, setiap warga negara Indonesia berhak mendaftar beasiswa LPDP tanpa memandang latar belakang ekonomi. Namun, ia menekankan pentingnya tanggung jawab moral demi pemerataan akses pendidikan.
“Untuk yang (keluarga) kaya kami kasih kesempatan parsial. Ini high call untuk bapak ibu keluarga kaya mohon daftarnya yang parsial. Kami beri kesempatan,” ujar Sudarto dalam konferensi pers, dikutip Holopis.com, Kamis (26/2/2026).
Saat ini, skema tersebut memang masih bersifat imbauan. Meski demikian, LPDP berharap para pendaftar yang memiliki kemampuan finansial lebih dapat menunjukkan kesadaran sosial demi keadilan bagi seluruh anak bangsa.
“Tapi kalau nggak parsial ya nggak masalah, sekarang hanya imbauan moral. Mudah-mudahan Anda daftarnya parsial, sehingga akan lebih banyak beasiswa yang bisa kami tawarkan kepada anak-anak Indonesia yang lain,” tambahnya.
Kebijakan ini sejalan dengan komitmen LPDP untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif. Berdasarkan data terbaru, dari total 58 ribu penerima beasiswa LPDP, distribusi penerima dari jalur prioritas terus menunjukkan tren peningkatan.
- Daerah 3T: 5.751 orang dari 127 kabupaten daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar.
- Keluarga Prasejahtera: 7.896 orang.
- Putra-Putri Papua: 821 orang.
Saat ini, akumulasi penerima beasiswa dari jalur afirmasi telah mencapai 25 persen. Namun, LPDP menargetkan angka ini terus naik hingga menyentuh porsi 30 persen dalam kebijakan internal terbaru.
“Di 3 tahun terakhir kami buat kebijakan di internal LPDP minimal 30% adalah untuk afirmasi. Jadi karena apa? no one left behind ini harus inklusif untuk seluruh anak Indonesia,” imbuh Sudarto.

