HOLOPIS.COM, JAKARTA – Praktik juru parkir (jukir) liar di kawasan Pasar Tanah Abang kembali meresahkan masyarakat. Di pusat grosir terbesar di Ibu Kota tersebut, tarif parkir yang dipatok dinilai tidak wajar, yakni mencapai Rp100 ribu untuk mobil dan Rp60 ribu bagi sepeda motor. Fenomena ini mencuat pada awal Ramadan, saat kawasan belanja itu dipadati pengunjung.
Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa penanganan parkir liar memerlukan ketegasan pemerintah bersama aparat penegak hukum.
“Memang yang pertama, sikap tegas dari pemerintah Jakarta dan juga aparat penegak hukum itu diperlukan. Maka kami lakukan operasi dan sebagainya,” ujar Pramono, sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com, Minggu, (23/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa langkah penindakan saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan. Pemprov DKI juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui perluasan lapangan kerja, sehingga masyarakat yang selama ini terlibat dalam praktik parkir liar dapat beralih ke pekerjaan yang lebih formal dan produktif.
Pramono optimistis peluang kerja dapat terus bertambah seiring pertumbuhan ekonomi Jakarta yang tetap positif. Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 5,21 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 5,11 persen. Bahkan pada triwulan IV tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 5,71 persen.
“Saya sebagai gubernur tentunya juga memikirkan untuk bisa membuka lapangan kerja yang lebih luas,” katanya.
Salah satu strategi yang ditempuh Pemprov DKI adalah menggandeng sektor swasta untuk membangun fasilitas publik tanpa membebani APBD DKI. Konsep tersebut diterapkan, antara lain, dalam penataan Taman Semanggi dan Bendera Pusaka.
“Yang kami lakukan adalah bermitra dengan private sector. Siapa yang mau bersedia, apa yang menjadi keuntungan mereka, kita tawarkan dengan naming rights. Misalnya Taman Semanggi tetap namanya, nanti ada tambahan ‘by’ siapa,” jelasnya.
Pemprov DKI berharap kombinasi antara penegakan hukum dan penciptaan lapangan kerja mampu menekan praktik jukir liar yang kerap berulang, khususnya di kawasan padat seperti Tanah Abang. Stabilitas dan kenyamanan pusat perdagangan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Jakarta.

