Minggu, 22 Feb 2026
BREAKING
Minggu, 22 Feb 2026
MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

Tenun Iban: Kain yang Menjaga Rimba dan Nyanyian Alam

15 Shares

HOLOPIS.COM, KAPUAS HULU – Di balik kerumitan motif tenun Iban Sadap, tersimpan sebuah filosofi yang melampaui sekadar kerajinan tangan. Bagi masyarakat adat Iban Sadap di Desa Sadap, Kalimantan Barat, setiap tarikan benang adalah ikrar untuk menjaga hutan. Bagi mereka, memutus hubungan dengan alam berarti mematikan tradisi itu sendiri.

Menenun bukan sekadar hobi atau mata pencaharian, melainkan ritual ekologis. Hal ini ditegaskan oleh Tomo, salah satu tokoh masyarakat setempat. Ia menjelaskan bahwa kelestarian tenun sangat bergantung pada kedaulatan wilayah adat.

- Advertisement -

“Ketika melakukan aktivitas menenun, artinya kami juga memelihara bumi. Kami tidak akan memusnahkan tanaman-tanaman yang terkait dengan tenun,” ujar Tomo. Baginya, hutan adalah penyedia “tinta” alami. Akar, kulit kayu, dan dedaunan adalah sumber warna yang tidak bisa digantikan oleh zat kimia industri.

Keunikan tenun Iban Sadap terletak pada kemandiriannya yang mutlak terhadap alam. Mala, seorang penenun setempat, menceritakan bagaimana festival tenun baru-baru ini menjadi pembuktian bahwa masyarakat adat bisa berdiri di atas kaki sendiri.

- Advertisement -

“Peralatan tenun dibuat dari bambu, pewarna dari berbagai jenis daun, akar, dan kulit kayu. Festival kemarin menunjukkan bahwa kami tidak bergantung pada siapa pun, kecuali diri sendiri dan alam,” kata Mala bangga.

Ketergantungan yang sehat ini menjadi alasan kuat mengapa pengakuan negara melalui RUU Masyarakat Adat menjadi krusial. Tanpa perlindungan wilayah adat, laboratorium warna alami milik leluhur ini terancam sirna oleh eksploitasi lahan.

Jika hutan adalah penyedia bahan baku, maka Rumah Panjang adalah dapur kreativitasnya. Di bangunan ikonik yang membentang di tepi sungai Batang Kanyau ini, menenun menjadi aktivitas komunal yang unik.

Di Ruai—ruang terbuka panjang yang berfungsi sebagai aula bersama—perempuan dari berbagai generasi berkumpul. Uniknya, suasana di Ruai menciptakan “persaingan positif”.

“Ruai menjadi jantung kehidupan. Di sanalah aktivitas harian seperti menenun dilakukan bersama. Menariknya, menenun menjadi dorongan kolektif. Ketika satu orang menenun, yang lain terdorong untuk bekerja. Bukan persaingan yang saling menjatuhkan, melainkan persaingan yang memotivasi,” tambah Tomo.

Di bawah kepemimpinan Tuai Rumah (kepala rumah tangga adat), Rumah Panjang memastikan bahwa pengetahuan lokal tidak berhenti di tangan lansia, melainkan mengalir ke generasi muda yang tekun menjalin benang di ruang yang sama.

Bagi Iban Sadap, selembar kain tenun adalah peta keberlanjutan. Selama sungai masih mengalir dan hutan masih rimbun, maka bunyi ketukan alat tenun kayu akan terus bergema di Ruai Rumah Panjang, menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
15 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru