HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sejak pertama kali kisahnya mencuat, legenda urban Pocong Ningrum langsung menyebar luas di media sosial. Namanya menjadi bisik-bisik gelap yang membuat siapa pun enggan berjalan sendirian saat malam tiba.
Rasa penasaran publik mendorong penelusuran ke sebuah desa yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya sosok tersebut.
“Pocong Ningrum” bukanlah nama asli. Sebutan itu hanyalah nama samaran, karena konon sosok tersebut tidak ingin identitasnya disebutkan. Warga sekitar pun memperingatkan hal yang sama, ada pantangan keras untuk menyebut nama asli maupun lokasi tepat rumah yang dikaitkan dengannya. Pamali, kata mereka. Terlalu berisiko jika dilanggar.
Desa yang dirahasiakan lokasinya itu disebut berada di perbatasan antar kabupaten di Jawa Timur. Suasananya tenang pada siang hari, tetapi berubah mencekam saat malam turun.
Menurut cerita yang beredar, gangguan kerap terjadi antara pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari, dimana waktu ketika kebanyakan orang terlelap dan jalanan desa sunyi tak berpenghuni.
Teror biasanya diawali dengan ketukan keras di pintu rumah. Bukan ketukan biasa, melainkan bunyi hantaman tumpul yang berulang-ulang, seolah sesuatu membenturkan dirinya ke daun pintu. Konon, itu adalah kepala Pocong Ningrum yang digunakan untuk mengetuk.
Saat penghuni rumah memberanikan diri membuka pintu, tak ada siapa pun di luar. Halaman kosong. Udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Namun keheningan itu hanya sesaat, karena tanpa disadari, sosok berbalut kain kafan sudah berada di dalam rumah. Berdiri kaku. Diam.
Rumah yang pernah “didatanginya” dipercaya akan terus mengalami gangguan. Suara langkah terdengar dari atap, bayangan putih melintas di sudut ruangan, hingga benda-benda yang berpindah sendiri. Seolah sosok itu ingin menegaskan keberadaannya bahwa ia belum pergi dan tak akan mudah dilupakan.
Cerita yang beredar menyebutkan bahwa Pocong Ningrum dahulu adalah seorang wanita yang pernah tinggal di desa tersebut. Ia dikabarkan mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari sebagian warga.
Tekanan dan keputusasaan membuatnya mengambil keputusan tragis untuk mengakhiri hidupnya. Sejak saat itu, arwahnya dipercaya tidak pernah benar-benar tenang.

