HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat membawa angin segar bagi industri tekstil nasional. Melalui kerja sama Agreement on Reciprocal Trade (ART), produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia resmi mendapatkan tarif impor nol persen ke pasar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan kebijakan ini akan berdampak besar terhadap keberlangsungan industri dan jutaan tenaga kerja di sektor tersebut.
“Hal ini tentunya memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini akan sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia,” jelas Airlangga dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026) waktu setempat.
Dalam perjanjian ART yang ditandatangani pekan ini, pemerintah AS berkomitmen memberlakukan tarif nol persen melalui mekanisme tariff-rate quota (TRQ). Rincian teknis skema tersebut akan diatur lebih lanjut.
Kebijakan ini membuat produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia lebih kompetitif dibanding negara pesaing di pasar Amerika. Dengan pasar AS yang disebut sekitar 28 kali lebih besar dari pasar domestik Indonesia, peluang peningkatan produksi dan ekspor terbuka lebar.
“Indonesia merencanakan untuk mengembangkan ekspor industri tekstil dari sekitar USD 4 miliar ke USD 40 miliar dalam 10 tahun, jadi saya pikir pembukaan pasar ini sangat perlu untuk industri Indonesia,” jelas Airlangga.
Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi intensif sejak kebijakan tarif resiprokal AS diumumkan pada April 2025. Saat itu, Indonesia sempat dikenakan tarif 32 persen. Setelah perundingan panjang, tarif dasar disepakati menjadi 19 persen, dan melalui ART Indonesia berhasil mengamankan tarif 0–10 persen untuk sejumlah produk strategis, termasuk tekstil.
Dengan pembebasan tarif ini, pemerintah berharap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mampu meningkatkan daya saing global, memperluas penetrasi pasar, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi jutaan keluarga Indonesia.

