HOLOPIS.COM, JAKARTA – Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) merupakan penyakit sistem saraf yang menyerang sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan penderitanya kehilangan kendali atas otot secara bertahap dan akan semakin memburuk seiring waktu.
ALS juga dikenal sebagai Lou Gehrig’s disease, diambil dari nama pemain bisbol legendaris yang pernah didiagnosis dengan penyakit tersebut. Hingga kini, penyebab pasti ALS belum diketahui, meski sebagian kecil kasus terjadi karena faktor keturunan.
Penyakit ini biasanya diawali dengan gejala ringan seperti kedutan otot atau kelemahan pada tangan dan kaki, kemudian berkembang menjadi gangguan yang memengaruhi kemampuan bergerak, berbicara, menelan, hingga bernapas. Hingga saat ini, ALS belum memiliki obat dan tergolong sebagai penyakit fatal.
Gejala ALS yang Perlu Diketahui
Gejala ALS dapat berbeda pada setiap orang, tergantung sel saraf mana yang terdampak. Namun, penyakit ini umumnya dimulai dari kelemahan otot yang perlahan menyebar ke bagian tubuh lain.
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain kesulitan berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari, mudah tersandung atau jatuh, serta kelemahan pada kaki, pergelangan, atau tangan. Penderita juga dapat mengalami gerakan tangan yang menjadi canggung, bicara pelo, hingga kesulitan menelan.
Selain itu, kelemahan otot sering disertai kram dan kedutan pada lengan, bahu, atau lidah. Pada sebagian kasus, penderita juga mengalami perubahan perilaku atau emosi, seperti tertawa atau menangis tanpa sebab yang jelas.
ALS biasanya bermula di tangan, kaki, lengan, atau tungkai, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Seiring semakin banyak sel saraf yang rusak, otot akan semakin melemah hingga akhirnya memengaruhi fungsi dasar seperti mengunyah, berbicara, dan bernapas.
Penyakit ini umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri pada tahap awal, dan juga jarang menimbulkan rasa sakit pada tahap lanjut. ALS biasanya tidak memengaruhi kontrol kandung kemih maupun fungsi indera seperti penciuman, peraba, pendengaran, dan pengecap.
Karena sifatnya yang progresif, penanganan ALS lebih berfokus pada memperlambat perkembangan gejala serta menjaga kualitas hidup penderita melalui terapi dan dukungan medis.

