HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sejumlah inisiatif lokal di berbagai wilayah Jalur Gaza berupaya menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi anak-anak saat memasuki bulan suci Ramadan yang dimulai pada Rabu (18/2).
Bagi banyak warga, Ramadan tahun ini menjadi yang ketiga sejak eskalasi konflik Israel-Palestina pada Oktober 2023. Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak Oktober 2025, kondisi sulit masih dirasakan masyarakat. Di tengah keterbatasan tersebut, warga dan seniman berusaha menjaga semangat Ramadan melalui kegiatan kreatif dan kebersamaan.
Di Khan Younis, Gaza selatan, Rehan Shorrab (33) memanfaatkan kotak kardus bekas distribusi bantuan kemanusiaan untuk dibuat menjadi lentera Ramadan berwarna-warni.
“Saya telah kehilangan rumah dan beberapa anggota keluarga, namun saya ingin menghadirkan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak yang menderita akibat perang,” ujarnya, dikutip Holopis.com, Jum’at (20/2).
“Ramadan seharusnya tetap menghadirkan kehangatan dalam hati mereka,” lanjutnya.
Lentera-lentera itu dibuat secara manual, dihias dengan kain yang dikumpulkan dari sekitar, lalu dibentuk menjadi berbagai pola. Sebagian dipajang di luar tendanya agar dapat diambil gratis oleh anak-anak, sementara sebagian lainnya dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Kebahagiaan yang saya lihat di mata anak-anak tersebut saat mereka membawa lentera mereka memberi saya rasa kepuasan yang tak terlukiskan,” tuturnya. “Terkadang, hanya mendengar seorang anak tertawa membuat saya merasa bahwa semua hal yang telah saya lakukan benar-benar sepadan.”
Salah satu anak yang menerima lentera tersebut, Yasser Bashir, mengatakan hadiah itu membuat mereka tetap merasakan suasana perayaan.
“Lentera itu membuat kami merasa menjadi bagian dari perayaan tersebut, meski terdapat segala kesulitan di sekitar kami,” ujarnya.
Inisiatif serupa juga muncul di Gaza City, wilayah utara, di mana Hussam Ali membuat lentera dari sisa logam dan kayu. Ia bahkan mengajak anak-anak ikut menghias, sehingga mereka dapat mengekspresikan diri melalui kegiatan tersebut.
“Saya melakukan hal ini untuk anak-anak,” kata Ali.
Kegiatan individu ini turut diperkuat proyek komunitas. Di lingkungan Al-Sa’afin, Khan Younis, sekelompok seniman melukis gambar lentera berwarna cerah di dinding reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan.
“Melukis lentera di dinding tidak sekadar seni, ini merupakan pesan harapan bagi anak-anak,” tutur Mohammed Al-Najjar. “Kami ingin anak-anak memandang bahwa Ramadan tetap menjadi masa yang menyenangkan, bahkan setelah semua hal yang mereka alami.”
Anak-anak juga dilibatkan dalam memilih desain dan proses melukis, memberi mereka ruang untuk beraktivitas sekaligus mengalihkan perhatian dari situasi sulit.
Upaya-upaya tersebut berlangsung di tengah kondisi kemanusiaan yang masih berat. Banyak warga masih tinggal di reruntuhan dan menghadapi pembatasan akibat blokade, sambil berusaha mempertahankan rutinitas serta tradisi Ramadan.

