Jumat, 20 Feb 2026
BREAKING
Jumat, 20 Feb 2026

Syam Basrijal Ingatkan soal Dunia Kerja Produktif Tapi Tidak Pulih

7 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Founder Satya Mindcare, Syam Basrijal mengatakan bahwa dunia modern saat ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan dan kemajuan dunia kerja. Di mana efektivitas dan kecepatan menjadi salah satu barometer dalam industri. Apalagi ditopang dengan kemajuan teknologi yang membuat produktivitas kian meningkat.

“Dunia kerja modern bergerak cepat. Target meningkat, persaingan makin ketat, transformasi digital terus dipercepat. Di atas kertas, produktivitas terlihat baik. Laporan kinerja disusun rapi. Grafik pertumbuhan ditampilkan meyakinkan,” kata Syam Basrijal, Kamis (19/2/2026).

- Advertisement -

Hanya saja, tak sedikit ditemui bahwa peningkatan produktivitas tersebut ternyata tak selalu linier dengan kondisi manusianya. Sebab mereka cenderung menghadapi kegelisahan dan tekanan batin yang juga tidak mudah.

“Ada pertanyaan yang jarang diajukan, apakah manusia di dalam sistem itu benar-benar pulih?. Banyak organisasi membangun budaya performa tinggi, tetapi tidak membangun budaya pemulihan emosional. Akibatnya, burnout menjadi fenomena yang diam-diam meluas,” ujarnya.

- Advertisement -

Syam Basrijal yang juga pendiri Restorasi Jiwa Indonesia ini pun menjelaskan bahwa burnout bukan sekadar kelelahan fisik semata. Akan tetapi sebuah kondisi di mana seseorang seperti kehilangan tujuan sebenarnya dalam hidup.

“Ia adalah kelelahan makna. Ia muncul ketika seseorang terus bekerja, tetapi kehilangan hubungan dengan alasan mengapa ia bekerja,” tutur Syam.

Situasi tersebut kata Syam akan tergambar pada kondisi batin seseorang, sepertinya ia sedang giat dan semangat dalam bekerja karena ada KPI (Key Performance Indicator) yang juga berpacu dalam mereka melaksanakan aktivitas. Di saat yang sama, ia tidak menemukan kebahagiaan dan justru sering kali bertemu dengan rasa cemas dan gelisah.

“Budaya kerja yang terlalu kompetitif, minim ruang dialog, dan berbasis tekanan berlebihan menciptakan kecemasan kronis. Ketika karyawan terus berada dalam mode ‘siaga’, sistem saraf tidak pernah benar-benar beristirahat,” ucapnya.

Namun yang menurut Syam Basrijal perlu dicatat dengan baik adalah, dalam jangka pendek tekanan memang bisa meningkatkan performa. Akan tetapi dalam jangka panjang, tekanan tanpa regulasi melahirkan kelelahan emosional, penurunan konsentrasi, konflik antar tim, dan meningkatnya kesalahan keputusan.

“Kecemasan di tempat kerja sering kali tidak terlihat. Ia tersamar dalam bentuk mudah tersinggung, sinisme, apatis, atau penurunan motivasi. Organisasi yang tidak peka akan membaca gejala ini sebagai kurang disiplin, padahal akar masalahnya adalah kelelahan psikologis,” tandasnya.

Langkah Konkret

Bagi Syam Basrijal, kesehatan mental SDM (sumber daya manusia) di lingkungan kerja harus menjadi concern tersendiri, tidak boleh diabaikan karena akan menjadi bom waktu di kemudian hari bagi organisasi yang masih mengandalkan manusia dalam menyelesaikan progres-progres yang ada.

“Gangguan mental di tempat kerja berkontribusi pada kerugian ekonomi miliaran dolar setiap tahun. Di Indonesia, dampaknya mungkin belum terukur secara komprehensif, tetapi realitas di lapangan menunjukkan tren yang sama. Organisasi yang mengabaikan kesehatan mental sebenarnya sedang menggerus nilai jangka panjangnya sendiri,” papar Syam.

Oleh sebab itu, ia mewanti-wanti bagi Perusahaan yang ingin bertahan 20–30 tahun tidak cukup hanya membangun sistem dan teknologi. Mereka harus membangun manusia. Model organisasi berbasis kesadaran menempatkan regulasi emosi, komunikasi sehat, dan refleksi sebagai bagian dari budaya kerja. Ini bukan berarti menurunkan standar performa. Sebaliknya, ini memperkuat fondasi performa.

Maka menurutnya sebenarnya perlu adanya sebuah literasi dan pelatihan yang baik untuk mengelola kesehatan mental para tim pekerja, khususnya melalui pelatihan regulasi emosi bagi manajemen dan tim. Kemudian menghadirkan ruang dialog yang aman untuk menyampaikan tekanan.

Tak dipungkiri, evaluasi kinerja yang tidak hanya berbasis angka juga harus dilakukan, sehingga tujuannya adalah terciptanya keseimbangan beban kerja. Dan yang tak kalah penting lagi adalah kebijakan pemulihan yang jelas, termasuk waktu istirahat yang dihormati.

“Melalui pendekatan yang dikembangkan di Restorasi Jiwa Indonesia dan penguatan profesional di Satya Mindcare, organisasi diajak membangun budaya kerja yang sadar, bukan reaktif,” terangnya.

Dengan langkah-langkah tersebut, Syam Basrijal mengatakan bahwa ada tujuan akhir besar yang bisa dicapai, sistem yang dijalankan di perusahaan bisa meningkatkan nilai tambah ekonomi. Kemudian SDM yang bekerja pun akan menjaga usia perusahaan tetap produktif.

“Karena pada akhirnya, sistem terbaik sekalipun tetap dijalankan oleh manusia. Dan manusia yang stabil secara batin adalah fondasi organisasi yang benar-benar kuat,” pungkas Syam Basrijal.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
7 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru