HOLOPIS.COM, JAKARTA – Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans terus memicu perbincangan publik. Memoar yang berisi pengakuan personal itu tidak hanya menyentuh sisi emosional pembaca, tetapi juga menimbulkan polemik setelah seorang aktor, Roby Tremonti, menyampaikan klarifikasi terbuka melalui media sosial.
Sejak dirilis, Broken Strings banyak dibaca sebagai representasi pengalaman traumatis yang dialami penulis di masa muda. Meski tidak menyebut nama, narasi dalam buku tersebut memunculkan tafsir luas di ruang digital, hingga sejumlah pihak merasa terdampak oleh persepsi publik yang berkembang.
Roby Tremonti menyatakan unggahannya dibuat sebagai respons atas narasi yang beredar.
“Postingan ini saya buat untuk memberikan counter terhadap suatu sumber yang sudah beredar dari Oktober 2025,” tulis Roby di akun Instagram pribadinya pada hari Kamis (8/1) seperti dikutip oleh Holopis.com.
Ia menegaskan buku tersebut tidak mencantumkan namanya, namun berdampak pada reputasi dirinya.
“Dampak dari buku tersebut membuat akun Instagram saya mendapatkan komentar-komentar fitnah yang super liar,” lanjutnya.
Dalam pernyataan lanjutan, Roby menyinggung fenomena pembentukan opini publik di era digital.
“Tujuan dari sumber tersebut memang jelas mau membuat kredibilitas saya hancur, aka cancel culture bahasa modern sekarang,” tulisnya.
Ia juga meminta publik menelusuri rekam jejak digital secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.
“Tolong teman-teman netizen cek dulu rekam jejak video dan rekam jejak digital di internet, apakah pernah ada laporan kepolisian,” ungkap Roby.
Roby turut menyampaikan bahwa dirinya memiliki dokumen yang diklaim sebagai bukti hubungan masa lalu, termasuk pernikahan siri, dan menegaskan kesiapan menunjukkan bukti tersebut apabila diperlukan. Ia membatasi kolom komentar demi meredam serbuan akun anonim.
Sementara itu, diskusi publik tetap berfokus pada kekuatan narasi Broken Strings. Banyak pembaca menilai buku tersebut relevan karena menggambarkan relasi tidak sehat, tekanan emosional, serta proses bertahan hidup dari pengalaman yang membekas.
Seorang pembaca yang enggan disebutkan namanya menilai isi buku tersebut “mewakili suara-suara korban yang selama ini sulit disampaikan,” tanpa menyebut individu tertentu.
Seperti diberitakan sebelumnya oleh Holopis.com, buku Broken Strings memotret perjalanan hidup Aurelie sejak masa kanak-kanak hingga remaja, termasuk pengalaman berada dalam hubungan yang tidak sehat dengan sosok yang lebih dewasa.
Tanpa menyebut nama secara gamblang, narasi yang ditulis dengan detail emosional membuat pembaca menarik kesimpulan sendiri, hingga akhirnya menyeret nama mantan Aurelie ke pusaran sorotan publik.

