HOLOPIS.COM JAKARTA – Lanskap pariwisata Indonesia berada di ambang perubahan besar. Dalam acara Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2026 yang mengusung tema “Navigasi Menuju Pariwisata yang Lestari, Berdaya, dan Menguntungkan,” terungkap bahwa daya tarik Indonesia tidak lagi bergantung pada destinasi “wajib kunjung” semata, melainkan pada keunikan dan otentisitas yang ditawarkan daerah-daerah baru.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, dalam pidato utamanya, menyoroti tiga tren fundamental yang kini dikendalikan oleh generasi muda, terutama Gen Z dan Milenial. Jika generasi sebelumnya mencari kenyamanan, Gen Z dan Milenial kini menjadi motor penggerak yang mengedepankan pengalaman.
Menpar Widi mengungkapkan statistik menarik 52 persen Gen Z rela mengeluarkan uang lebih untuk pengalaman berwisata. “Mereka mencari pengalaman, bukan sekadar check-in di hotel mewah. Minat Gen Z terhadap pariwisata jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya,” ujar Menpar.
Hal ini menjadi sinyal bagi pelaku industri untuk tidak lagi terpaku pada kemasan wisata konvensional, melainkan berinovasi dalam menciptakan petualangan yang otentik dan berkesan.
Pergeseran paling signifikan terjadi dalam pemilihan destinasi. Dulu, wisatawan berbondong-bondong ke destinasi yang sudah menjadi ikon global. Kini, justru destinasi yang sebelumnya hanya dianggap ‘detour’ atau tidak menjadi pilihan utama, semakin diminati.
Strategi yang digulirkan adalah menciptakan paket wisata yang menggabungkan destinasi populer dengan tempat-tempat niche di sekitarnya. Contohnya, paket yang memungkinkan wisatawan menikmati kemewahan pantai di Bali, kemudian melanjutkan ke Banyuwangi untuk merasakan sisi alam dan budaya Jawa yang otentik.
Konsep perjalanan intraregional (wisata antarnegara tetangga) di Asia Tenggara juga diperkirakan meningkat, menjadi 30 persen pada 2030, membuka peluang bagi Indonesia untuk menawarkan kombinasi destinasi yang seamless.
Temuan survei JLL Indonesia terhadap 1000 responden Gen Z dan Milenial di Asia Pasifik semakin memperkuat tren ini. Minat berwisata saat ini didominasi oleh aktivitas yang bersentuhan langsung dengan alam, seperti kemping, trekking, dan diving.
Di samping itu, wisata budaya otentik dan wellness (spa) juga merangkak naik. Vivin Harsanto, Executive Director JLL Indonesia, bahkan memberikan ide menarik yang berpotensi menjadi daya tarik unik Jakarta:
“Mungkin kalau di Jakarta dibuat satu walking tour gastronomi Betawi, keliling mulai dari Petak Sembilan sampai Monas,” usul Vivin, menggambarkan kebutuhan wisatawan muda akan pengalaman lokal yang mendalam dan berkesan.
Tren pariwisata unik ini juga menuntut kesiapan infrastruktur yang berkelanjutan. Eduard Rudolf Pangkerego, Chief Operating Officer Artotel Group, menegaskan bahwa penerapan praktik berkelanjutan atau ESG (Environmental, Social, and Governance) bukan lagi pilihan, melainkan sebuah pertanggungjawaban.

