HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) secara agresif meluncurkan inisiatif promosi strategis dengan fokus menggarap segmen wisatawan berdaya beli tinggi (premium) dari Korea Selatan dan Tiongkok, dua pasar utama di Asia Timur.
Upaya ini diwujudkan melalui perhelatan Wonderful Indonesia Business Matching (WIBM) di Seoul dan Beijing pada awal September 2025, yang melibatkan total 36 pemangku kepentingan industri pariwisata nasional, termasuk jaringan resor mewah, Destination Management Company (DMC) eksklusif, dan maskapai penerbangan.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menjelaskan misi promosi ini bertujuan untuk memposisikan Indonesia sebagai destinasi wisata premium yang menarik. Langkah ini merupakan komitmen kolaboratif Kemenpar untuk memperkuat penetrasi pasar dan mendorong peningkatan kualitas pariwisata nasional di kancah global.
“Kami mengajak operator, maskapai, dan mitra perhotelan premium, hingga pengelola atraksi wisata dalam delegasi ini. Ini menunjukkan fokus pada segmen wisatawan yang mencari pengalaman eksklusif,” ujar Made, menekankan pergeseran fokus dari pariwisata massal.
WIBM di Korea Selatan (8 September) dan Tiongkok (10 September) menjadi platform business-to-business (B2B) untuk menjalin kolaborasi dalam pembuatan paket wisata baru. Di Korea Selatan, Kemenpar didukung 14 stakeholder, termasuk nama-nama resor butik mewah seperti Komaneka Resort dan Tanah Gajah Resort, yang mencerminkan upaya promosi pada layanan personal dan eksklusivitas.
Sementara itu, delegasi di Tiongkok melibatkan 22 stakeholder, dengan penekanan kuat pada segmen kemewahan dan kesehatan (wellness), menghadirkan partisipan kelas dunia seperti Four Seasons Resorts Bali, The Mulia Resorts & Villa, dan Revivo Wellness Resort.
Konektivitas menjadi faktor kunci yang diperkuat dalam penawaran ini. Maskapai Garuda Indonesia berpartisipasi aktif mempromosikan rute penerbangan dari Seoul, Shanghai, dan Guangzhou menuju lebih dari 36 destinasi wisata di Indonesia.
Representatif Garuda Indonesia di Shanghai, Raka Krisyanto, menilai inisiatif Kemenpar ini sebagai langkah penting dalam memperkuat konektivitas antara Indonesia dan Tiongkok. “Business matching ini tidak hanya menghadirkan peluang baru bagi para pelaku usaha pariwisata, tetapi juga memberi dorongan bagi peningkatan mobilitas udara yang menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan wisatawan,” kata Raka.
Secara keseluruhan, kegiatan WIBM ini adalah wujud nyata implementasi program Pariwisata Naik Kelas Kemenpar. Indonesia kini secara tegas menegaskan kesiapan untuk menyambut lebih banyak wisatawan high-level dari Korsel dan Tiongkok, demi pertumbuhan pariwisata nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

