JAKARTA – Pengamat politik sekaligus mantan birokrat Muhammad Said Didu mengingatkan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengganti strategi dalam menghadapi situasi bangsa Indonesia saat ini.
Namun menurutnya, Kepala Negara justru masih menggunakan strategi lama saat menghadapi kondisi yang beberapa waktu terakhir ini terjadi di sejumlah titik wilayah. Ia mengibaratkan Presiden Prabowo sebagai pembalap MotoGP yang hampir menyelesaikan lomba di putaran dan tikungan terakhir yang paling menegangkan.
“Saya menyatakan saya selalu membayangkan bahwa Pak Prabowo sedang berada di putaran terakhir dan tikungan terakhir. Kalau ibarat balap MotoGP yang paling seru. Nah, di sini lah Pak karena lama sekali kita mengingatkan Pak Prabowo bahwa ini Bapak ini harus mengganti ban. Ganti ban itu karena cuaca berubah,” kata Didu dalam podcast yang diunggah pada kanal YouTube Refly Harun, seperti dikutip Holopis.com, Selasa (9/9/2025).
“Kalau Bapak lanjutkan dengan memakai bannya Jokowi, maka pasti Bapak jatuh. Itu yang kita ingatkan. Tapi kelihatannya nggak ganti-ganti ban juga. Nah, malah ban lama dipakai terus,” tambahnya.
Di sisi lain, ia menilai bahwa orang nomor satu di Indonesia itu mulai menyadari akan pentingnya langkah menyelamatkan negara dengan menghadirkan berbagai pihak terkait, untuk mendengarkan secara langsung masukan dan aspirasi masyarakat secara transparan.
“Nah, ini kesempatan tapi saya melihat ada tanda-tanda yang bahwa dia menyadari bahwa ini untuk menyelamatkan negara ini kelihatannya beliau sudah menggunakan telinganya sehingga memanggil beberapa unsur untuk didengarkan langsung,” ungkapnya.
Didu juga mengungkapkan, ada 2 jalur utama untuk bisa bertemu atau berkomunikasi dengan Presiden Prabowo, yakni Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya dan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Selain dua orang itu, ia menyebut adanya tiga atau empat orang, termasuk dengan nama-nama yang sudah disebutkan tersebut.
“Selama ini kita orang paham betul bahwa hanya dua pintu masuk ke beliau ada ya menyatakan tiga dan empat lah. Tapi yang biasanya adalah hanya Seskab-Seskab dan Wakil Ketua DPR, Seskab Teddy dan Dasco. Nah, itu kan dianggap pintu utama dua,” terangnya.
Lebih lanjut, kata Didu, Prabowo juga sudah terbuka pikirannya terkait dengan dua orang kepercayaannya itu tidak terlalu efektif jika dijadikan sebagai jalur utama untuk berkomunikasi dengannya.
“Nah, tapi kelihatannya yang pintu utama hanya dua dan kelihatannya pintu utama ini kelihatannya Pak Prabowo sudah menyadari bahwa ternyata tidak terlalu efektif hanya menggunakan pintu itu,” imbuhnya.

