JAKARTA – Di tengah riuh rendah polemik seputar dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo yang kembali mencuat ke permukaan, suara bijak muncul dari Syam Basrijal, Founder Restorasi Jiwa Indonesia.
Dalam kesempatan ini, Syam mengajak seluruh elemen bangsa untuk berhenti berkutat pada perdebatan tak berujung dan mulai membangun kembali kepercayaan publik yang rapuh.
Meski pengadilan telah menolak gugatan berulang kali dan Universitas Gadjah Mada menegaskan keaslian ijazah dan skripsi Presiden Jokowi, perdebatan di ruang publik belum juga surut.
“Fakta hukum sudah jelas, klarifikasi sudah diberikan, namun perdebatan terus bergulir seperti api yang tak padam,” tulis Syam dalam keterangannya, Kamis (21/8/2025).
Bagi Syam, akar persoalan ini lebih dalam daripada sekadar dokumen akademik. Akan tetapi pada persoalan public trust terhadap absah atau tidaknya sebauh dokumen ijazah tersebut.
“Polemik ini lebih banyak berbicara tentang rapuhnya kepercayaan publik daripada soal ijazah,” ungkapnya.
Ia menilai, masyarakat kerap menempatkan simbol gelar lebih tinggi dari integritas dan karya nyata—sebuah kecenderungan yang berbahaya bagi masa depan bangsa.
Lebih lanjut, Syam menyerukan perlunya langkah restoratif, yakni memulihkan kepercayaan rakyat dengan cara yang jujur dan terbuka. Di mana negara dan institusi pendidikan harus memperkuat sistem transparansi serta menyediakan kanal informasi yang dapat diakses publik.
“Negara dan kampus perlu menyediakan kanal informasi resmi yang mudah diakses, publik harus mulai terbiasa dengan budaya verifikasi,” tuturnya.

