JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (24/2) kemarin.
Kehadiran Sovereign Wealth Fund (SWF) tersebut diyakini berdampak positif pada pemegang saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dikelola Danantara, terutama terkait alokasi dividen.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan meyakini, kehadiran Danantara bakal menguntungkan para investor karena perusahaan pelat merah yang dikelola lembaga superholding BUMN ini akan semakin efisien dalam alokasi modal dan disiplin keuangan.
“Termasuk potensi dividen yang lebih besar,” kata Erindra dalam risetnya, seperti dikutip Holopis.com, Selasa (25/2).
Dia pun memprediksi, imbal hasil dividen dari sejumlah BUMN yang akan dikelola pada tahap awal, seperti BMRI, BBNI, dan TLKM akan semakin besar, dimana masing-masing akan meningkat menjadi 9,6 persen, 11,2 persen, dan 7,1 persen.
Peningkatan imbal hasil dividen tersebut kemungkinan besar akan terjadi, seiring dengan kemungkinan rasio pembayaran dividend (payout ratio) yang akan dinaikkan menjadi 80 persen dari laba bersih.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan, bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana sebesar USD20 miliar untuk Danantara. Dana tersebut berasal dari efisiensi yang dilakukan pemerintah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dividen BUMN.
Pada 2024, dividen dari tujuh BUMN yang berada di bawah Danantara mencapai USD5,2 miliar atau 95 persen dari total dividen BUMN yang sebelumnya diterima negara.
Lebih lanjut, Erindra juga mengapresiasi aturan yang menyebut, bahwa kerugian investasi yang dilakukan oleh Danantara tidak dikategorikan sebagai kerugian negara.
“Ini membuat Danantara dan BUMN bisa beroperasi lebih fleksibel, melakukan ekspansi pada pendanaan non APBN, dan membangun aliansi strategis pada proyek-proyek besar,” katanya.
Selain itu, kata dia, aset-aset BUMN yang selama ini belum dikelola maksimal diprediksi meningkat karena dikelola Danantara. Sebagai pengelola dana, Danantara dapat mengambil keputusan cepat untuk melakukan injeksi modal, restrukturisasi, atau hapus aset.
“Aset Danantara yang mencapai USD900 miliar sedianya bisa diinvestasikan untuk instrumen jangka panjang, terutama pada industri-industri strategis seperti hilirisasi yang berpotensi memperkuat daya saing Indonesia,” katanya.
Namun, kehadiran SWF raksasa ini bukan tanpa risiko. Menurut Erindra, terdapat kekhawatiran soal struktur manajemen Danantara, termasuk pemilihan pejabat di dalamnya.
“Kendati demikian, kami percaya kehadiran Badan Pengawas bisa membantu memastikan struktur tata kelola bisa lebih jelas dan transparan,” pungkasnya.

