HOLOPIS.COM, JAKARTA – United Nations Children’s Fund (UNICEF) mengungkapkan, hampir 70 persen air minum di rumah tangga Indonesia tercemar limbah tinja. Untuk itu, UNICEF mendorong agar masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Bicara ini agak menyedihkan karena benar, datanya dari Kemenkes. Menyatakan bahwa air dari rumah tangga hampir 70 persen tercemar limbah tinja,” kata Wash Spesialis UNICEF Indonesia, Maraita Listyasari, kepada Holopis.com, Rabu (19/10).

Namun Maraita kembali menegaskan, untuk meminimalisir pencemaran air selain dengan PHBS tapi juga rutin melakukan penyedotan septic tank (WC) sebanyak 3-5 kali setiap tahunnya.

Selain itu, pemasangan WC harus dilakukan dengan benar dan terhubung dengan sistem perpipaan. Jika tidak, penyakit bisa menyebar melalui manusia, dan adanya tanah atau lahan yang tercemar.

“Untuk meminimalisasi terjadinya penyakit pastikan toilet di rumah terhubung dengan sistem perpipaan atau WC. Kemudian, sedot 3-5 kali setahun dan jangan tunggu sampai penuh,” tegas dia.

“Virus bakteri bisa lewat mana saja, kalau sanitasi tidak dikelola dengan baik, maka pencemaran bisa terjadi di mana pun. WHO menunjukkan alur penyakit ini bisa masuk ke tubuh manusia, dari jari, lalat yang hinggap di makanan, lahan atau tanah, cairan dan makanan,” terangnya.

Sehubungan dengan Covid-19, maka Maraita mengimbau masyarakat tetap menerapkan PHBS dan protokol kesehatan (Prokes).

“Saat Covid-19, perilaku PHBS meningkat, maka perlu ditingkatkan lagi dengan cuci tangan di air yang mengalir. Kemudian, mencuci tangan dengan bersih, serta membersihkan kamar mandi dan toilet,” imbuh Maraita.