HOLOPIS.COM, JAKARTA – Maudy Ayunda kembali memberikan penjelasan setelah videonya mengenai cara menghadapi pemberitaan buruk di Indonesia menuai perdebatan di media sosial.
Dalam klarifikasinya, Maudy mengakui ada satu hal penting yang belum cukup ia bahas dalam video tersebut, yakni soal privilese. Menurutnya, kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari pemberitaan merupakan pilihan yang tidak dimiliki semua orang.
Penjelasan itu disampaikan Maudy melalui komentar yang disematkan pada video bertajuk Mindfulness in the Age of Bad News. Ia memberikan respons setelah membaca berbagai komentar dan perspektif yang disampaikan warganet.
“Hai teman-teman, terima kasih untuk semua komentar dan perspektif yang disampaikan di sini. Aku sudah membaca banyak di antaranya, dan ada satu hal penting yang aku sadari belum cukup aku sampaikan di video ini,” tulis Maudy, dikutip Holopis.com, Senin (14/9).
“Bisa mengambil jarak dari berita itu sendiri merupakan sebuah privilese. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pembahasan Maudy mengenai news diet mendapat kritik dari sebagian warganet. Mereka menilai ajakan untuk membatasi paparan berita tidak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat yang mengalami langsung dampak berbagai peristiwa.
Video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 itu sebenarnya membahas pengalaman pribadi Maudy dalam menghadapi derasnya informasi dan kabar buruk. Ia mengaku paparan berita negatif secara terus-menerus turut memengaruhi kondisi mentalnya.
Maudy kemudian memilih lebih selektif terhadap informasi yang dikonsumsi, mulai dari menyaring sumber berita hingga berdiskusi dengan orang yang dinilai memahami persoalan tertentu.
“Jadi aku enggak seharian mengekspos diri aku terhadap bad news ini karena ya sekali lagi, itu bisa bikin patah semangat, itu bisa bener-bener bikin disfungsional,” katanya dalam video tersebut.
“Apalagi kayak aku sebenarnya lumayan orang yang emosional dan aku kepikiran dan aku overthinker, jadi oke kalau kayak gitu mendingan kita split aja,” lanjut Maudy.
Menurut Maudy, kebiasaan tersebut juga membantunya lebih mengenali kondisi emosional ketika berhadapan dengan berbagai informasi yang datang secara bersamaan.
“Itu adalah beberapa hal yang membuat aku punya kesadaran diri lebih juga terhadap ‘kenapa sih aku merasa sekewalahan ini?’, se-ngerasa selemah ini mentalnya di antara semua kabar buruk yang ada di luar sana,” ujarnya.
Namun, pesan tersebut kemudian mendapat tafsir berbeda dari sebagian penonton. Terlebih bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak suatu peristiwa, kabar buruk yang diberitakan bukan sekadar informasi yang bisa mereka hindari, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...