JAKARTA — SIAGA 98 menilai dominannya narasi mengenai mantan Presiden Joko Widodo di ruang publik, media massa, dan media sosial berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Koordinator SIAGA 98 Hasanuddin mengatakan kondisi tersebut menciptakan situasi komunikasi politik yang dinilai kurang sehat. Menurutnya, pemerintahan yang sedang berjalan membutuhkan ruang publik yang proporsional untuk menjelaskan sekaligus mempertanggungjawabkan berbagai kebijakan dan program kepada masyarakat.
“Pemerintahan Presiden Prabowo harus mendapatkan ruang yang proporsional untuk menjelaskan kinerjanya kepada masyarakat. Jangan sampai ruang publik justru terus dipenuhi oleh narasi mengenai sosok Mantan Presiden Joko Widodo, sehingga perhatian masyarakat terhadap agenda pemerintahan saat ini menjadi terdistorsi,” kata Hasanuddin dalam keterangannya yang diterima Holopis.com, Selasa (1/9/2026).
SIAGA 98 menilai Presiden Prabowo bersama kabinetnya telah menjalankan sejumlah program yang diarahkan untuk kepentingan nasional, antara lain di bidang ekonomi, ketahanan pangan, pembangunan, hingga penguatan posisi Indonesia dalam hubungan internasional.

Namun, menurut Hasanuddin, berbagai agenda tersebut perlu dikomunikasikan secara langsung dan efektif agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai kinerja pemerintahan saat ini.
“Kami melihat ada persoalan dalam konstruksi komunikasi publik. Banyak hal yang dilakukan pemerintahan Prabowo sebenarnya menyangkut kepentingan nasional dan memiliki dampak strategis, tetapi tidak selalu menjadi narasi utama di ruang publik. Sebaliknya, perhatian publik masih sering tersedot pada isu dan narasi yang berkaitan dengan mantan Presiden Joko Widodo,” ujarnya.
Dorong Pemerintah Perkuat Komunikasi Publik
SIAGA 98 berpandangan kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi persepsi dan kredibilitas pemerintahan Prabowo.
Hasanuddin mengatakan persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kinerja pemerintah, tetapi juga dengan pertarungan narasi di ruang publik yang dapat membuat masyarakat kesulitan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai agenda dan kebijakan pemerintahan saat ini.
Karena itu, SIAGA 98 mendorong pemerintah memperkuat strategi komunikasi publik dengan menyampaikan capaian maupun kebijakan secara terukur, terbuka, konsisten, dan berbasis data.
“Pemerintah tidak cukup hanya bekerja. Hasil kerja juga harus dikomunikasikan dengan baik kepada publik. Kalau ruang komunikasi publik dibiarkan kosong, ruang tersebut akan diisi oleh berbagai narasi lain,” kata Hasanuddin.

“Pemerintah harus hadir dengan narasi yang faktual mengenai agenda dan capaian pemerintahannya sendiri,” lanjutnya.
SIAGA 98 juga mengingatkan agar dinamika politik masa lalu tidak terus menjadi pusat perhatian publik hingga mengaburkan agenda pemerintahan yang tengah berjalan.
Menurut Hasanuddin, Joko Widodo merupakan bagian dari sejarah pemerintahan Indonesia sebelumnya. Sementara itu, perhatian publik saat ini semestinya diarahkan pada pelaksanaan mandat pemerintahan Prabowo.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...