HOLOPIS.COM, JAKARTA – Fenomena menarik tengah terjadi di industri kendaraan listrik global. Riset terbaru dari International Council on Clean Transportation (ICCT) di pasar otomotif Jerman membeberkan bahwa penurunan harga baterai ternyata tak serta-merta bikin banderol mobil listrik (EV) di pasaran ikut melorot drastis.
Studi yang menganalisis lebih dari 100.000 konfigurasi mobil penumpang periode 2020 hingga 2025 itu mencatat biaya baterai secara riil sebenarnya sudah anjlok sekitar 35 persen.
Dilansir Holopis.com, dari CarsCoops, Selasa (28/7/2026) penurunan harga jual kendaraan listrik secara riil tercatat cuma turun sekitar 18 persen—itu pun setelah memperhitungkan penyesuaian inflasi, bobot, tenaga, kapasitas baterai, hingga jarak tempuh.
Sebagai pembanding, mobil bermesin bensin atau pembakaran internal (ICE) justru mengalami kenaikan harga tipis sekitar 2 persen pada rentang waktu yang sama.
Lantas, ke mana larinya efisiensi biaya baterai tersebut?
ICCT menilai penurunan harga baterai memang sukses menekan biaya produksi. Sayangnya, penghematan itu tak sepenuhnya “diumpan” ke konsumen dalam bentuk pemangkasan harga jual secara cuma-cuma.
Sebagian besar pabrikan rupanya memilih mengalokasikan efisiensi tersebut untuk mendongkrak kualitas produk. Duit penghematan dipakai buat memperbesar kapasitas baterai agar jarak tempuh lebih jauh, menambah fitur keselamatan dan teknologi canggih, hingga menutup biaya riset (R&D) untuk EV generasi berikutnya.
Model Mewah Makin Banyak, Mobil Listrik Murah Masih Langka
Temuan lain yang tak kalah mengejutkan adalah melonjaknya rata-rata harga mobil listrik yang dijual di pasar.
Pada 2020, rata-rata harga EV yang ditawarkan berada di angka 38.000 euro (sekitar Rp660 jutaan). Namun lima tahun berselang, angkanya malah melambung ke kisaran 54.000 euro (sekitar Rp940 jutaan).
Kenaikan ini bukan berarti satu model mengalami lonjakan harga secara ugal-ugalan. Penyebab utamanya adalah banjirnya pilihan model baru—dari yang tadinya hanya 38 model melesat jadi 159 model di pasaran.
Sayangnya, gempuran model baru ini didominasi segmen menengah hingga premium yang berbanderol tinggi. Sebaliknya, varian mobil listrik mungil dan murah masih sangat minim, hanya menyumbang sekitar 14 persen dari total model EV yang dipasarkan selama masa penelitian.
Meski mengambil sampel di Jerman, hasil riset ini menjadi cermin dinamika industri EV dunia. Murahnya biaya baterai memang membuka ruang inovasi, namun alih-alih merilis mobil murah, pabrikan lebih tergiur menghadirkan kendaraan berspesifikasi tinggi dengan jarak tempuh ekstra jauh.



