JAKARTA, HOLOPIS.COM – BNPT mengungkap teroris mengincar anak lewat Roblox, memanfaatkan chat game untuk pendekatan hingga doktrin, orang tua diminta waspada segera.
Platform game yang identik dengan kreativitas dan hiburan anak-anak kini terseret isu serius.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap adanya upaya perekrutan terorisme yang menyasar anak-anak melalui Roblox, salah satu game online paling populer saat ini.
Pengungkapan ini menjadi alarm keras bagi orang tua dan pemerintah.
Di balik tampilan game yang ramah anak, ternyata terdapat celah yang dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan pendekatan secara halus kepada calon korban.
Kepala BNPT, Eddy Hartono, menjelaskan bahwa pihaknya telah menggagalkan ratusan upaya perekrutan yang dilakukan lewat platform tersebut.
Anak-anak menjadi target utama karena dianggap lebih mudah dipengaruhi secara emosional.
Pendekatan yang digunakan tidak dilakukan secara terang-terangan.
Pelaku memulai dengan interaksi biasa di dalam game, memanfaatkan fitur percakapan untuk membangun kedekatan.
Mereka berperan layaknya teman bermain, menciptakan rasa nyaman dan kepercayaan.
Setelah hubungan terjalin, komunikasi tidak berhenti di dalam game. Anak-anak kemudian diajak beralih ke aplikasi lain seperti WhatsApp atau Telegram.
Di tahap inilah, konten bermuatan ideologi ekstrem mulai diperkenalkan secara perlahan.
Metode ini dikenal sebagai digital grooming, yakni strategi manipulasi psikologis yang dilakukan bertahap agar korban tidak menyadari sedang diarahkan pada paham berbahaya.
Menanggapi ancaman ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergerak cepat dengan memperketat pengawasan terhadap platform digital, termasuk game online.
Roblox masuk dalam kategori layanan berisiko tinggi yang wajib mematuhi aturan perlindungan anak di ruang digital.
Salah satu langkah konkret yang diterapkan adalah pembatasan fitur komunikasi.
Pengguna diwajibkan melakukan verifikasi usia, termasuk melalui teknologi pengenalan wajah.
Jika tidak memenuhi syarat atau tidak melakukan verifikasi, fitur chat akan otomatis dinonaktifkan.
Selain itu, akses terhadap konten game juga akan disesuaikan berdasarkan usia pengguna.
Hal ini dilakukan untuk meminimalisir potensi interaksi berbahaya yang bisa terjadi di dalam platform.
Kebijakan serupa juga akan diterapkan secara menyeluruh pada berbagai platform game lain di Indonesia.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman bagi anak-anak.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman di era digital semakin kompleks.
Orang tua tidak bisa hanya mengandalkan fitur keamanan dari platform, tetapi juga perlu aktif mengawasi aktivitas anak di dunia maya.
Edukasi digital, komunikasi terbuka, serta pendampingan saat anak bermain game menjadi langkah penting untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan.
Dunia digital memang menawarkan banyak manfaat, namun kewaspadaan tetap harus menjadi prioritas.
Dengan meningkatnya kasus seperti ini, kolaborasi antara pemerintah, penyedia platform, dan keluarga menjadi kunci utama dalam melindungi anak-anak dari ancaman tersembunyi di internet.


