HOLOPIS.COM, JAKARTA – Morgan Stanley memproyeksikan Federal Reserve (The Fed) tetap akan memangkas suku bunga pada 2026, meskipun dunia tengah menghadapi guncangan inflasi akibat lonjakan harga minyak.
Dalam analisis terbarunya, Morgan Stanley menilai tekanan inflasi yang terjadi saat ini lebih bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk mengganggu tren penurunan inflasi (disinflasi) secara global.
Faktor kunci yang menjadi perhatian utama pembuat kebijakan, menurut bank tersebut, bukanlah inflasi utama yang terdorong oleh energi, melainkan ekspektasi inflasi jangka panjang.
“Sejauh ini, ekspektasi tersebut tetap relatif stabil, bahkan ketika indikator inflasi jangka pendek telah meningkat sebagai respons terhadap harga minyak yang lebih tinggi,” tulis Morgan Stanley dalam laporannya, dikutip Holopis.com, Minggu (5/4/2026).
Morgan Stanley menekankan bahwa kenaikan ekspektasi inflasi dalam jangka pendek, khususnya satu tahun ke depan, lebih mencerminkan dampak sementara dari lonjakan harga energi, bukan perubahan struktural dalam dinamika inflasi.
Lebih jauh, ekspektasi inflasi jangka panjang yang menjadi perhatian utama The Fed masih berada di kisaran pra-pandemi. Hal ini dinilai sebagai sinyal bahwa kredibilitas bank sentral dalam menjaga stabilitas harga tetap terjaga.
Dalam skenario dasarnya, Morgan Stanley mengasumsikan dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi relatif terbatas.
Dengan kondisi tersebut, The Fed diperkirakan akan cenderung “mengabaikan” lonjakan harga energi saat ini, selama indikator inflasi fundamental terus menunjukkan perbaikan.
Di sisi lain, bank tersebut juga mencatat bahwa kondisi keuangan global telah mengalami pengetatan signifikan sejak meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah.
Kombinasi penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, dan meningkatnya premi risiko ekuitas disebut setara dengan kenaikan suku bunga sekitar 80 basis poin.
Kondisi ini secara tidak langsung telah membantu kerja The Fed dalam menekan inflasi, sehingga mengurangi kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Dengan berbagai faktor tersebut, Morgan Stanley memperkirakan The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada akhir 2026.
Pemangkasan suku bunga diproyeksikan terjadi pada paruh kedua tahun, dengan total dua kali penurunan masing-masing sebesar 25 basis poin.
Langkah ini diperkirakan akan membawa suku bunga acuan AS turun ke kisaran 3,0 hingga 3,25 persen, seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi dan pendinginan inflasi secara bertahap.
Namun demikian, Morgan Stanley mengingatkan bahwa seluruh proyeksi ini sangat bergantung pada stabilitas ekspektasi inflasi jangka panjang.
Jika ekspektasi tersebut meningkat secara signifikan dan berkelanjutan, The Fed berpotensi menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama, terutama bila lonjakan harga energi mulai memengaruhi perilaku penetapan harga secara luas.

