WFH Jadi Solusi di Tengah Krisis Energi Global, Seberapa Efektif?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) kembali mencuat sebagai strategi darurat di tengah ancaman krisis energi global.

Lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel membuat banyak negara mulai mencari cara cepat menekan konsumsi energi.

Salah satu jalur paling krusial yang terdampak adalah Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Gangguan di wilayah ini memicu kekhawatiran akan krisis energi berkepanjangan, sekaligus mendorong pemerintah dan perusahaan menghidupkan kembali kebijakan WFH untuk mengurangi mobilitas masyarakat.

WFH dinilai sebagai solusi instan karena mampu menekan konsumsi energi, khususnya dari sektor transportasi. Namun, di balik narasi “hemat energi”, sejumlah studi justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Hemat BBM, Tapi Energi Rumah Naik

Sejumlah penelitian yang dilansir Science Alert mengungkapkan bahwa penghematan energi terbesar dari WFH berasal dari berkurangnya aktivitas commuting.

- Advertisement -

Tanpa perjalanan harian, konsumsi bahan bakar turun signifikan, bahkan emisi karbon disebut bisa berkurang hingga 29 persen, terutama bagi pekerja dengan jarak tempuh panjang.

Namun, efek sampingnya tidak bisa diabaikan. Aktivitas kerja yang berpindah ke rumah justru meningkatkan konsumsi listrik rumah tangga.

Penggunaan laptop, pendingin ruangan, lampu, hingga internet meningkat selama jam kerja. Bahkan, aktivitas tambahan seperti memasak turut menyumbang lonjakan konsumsi energi.

Artinya, penghematan dari sektor transportasi bisa “tergerus” oleh kenaikan konsumsi di rumah.

Efisiensi Kantor Jadi Kunci

Efektivitas WFH juga sangat bergantung pada bagaimana kantor beroperasi. Dalam banyak kasus, sistem kerja hybrid membuat gedung perkantoran tetap berjalan normal meski jumlah karyawan berkurang.

Jika tidak ada penyesuaian, seperti pengurangan penggunaan listrik atau pendingin ruangan, maka energi justru terpakai di dua tempat sekaligus: rumah dan kantor. Dalam skenario ini, WFH berpotensi gagal menjadi solusi hemat energi.

Full WFH Lebih Efektif

Riset menunjukkan, WFH penuh waktu memberikan dampak penghematan energi yang lebih signifikan dibandingkan sistem hybrid. Hal ini karena mobilitas benar-benar ditekan dan operasional kantor dapat diminimalkan.

Sebaliknya, pola hybrid tanpa manajemen energi yang baik justru menciptakan inefisiensi baru semacam “double cost” energi yang diam-diam membengkak.

Faktor Perilaku Jadi Penentu

Menariknya, faktor manusia juga memainkan peran penting. Kebiasaan menggunakan pendingin ruangan sepanjang hari, perangkat elektronik boros energi, atau tetap bepergian di luar jam kerja bisa mengurangi manfaat WFH.

Sebaliknya, perilaku hemat energi, seperti penggunaan perangkat efisien dan pengelolaan listrik yang bijak, dapat memperkuat dampak positif kebijakan ini.

Solusi Cepat, Tapi Perlu Strategi

Di tengah tekanan krisis energi global, WFH memang terlihat seperti solusi cepat dan praktis. Namun tanpa pengelolaan yang tepat, kebijakan ini berisiko hanya memindahkan konsumsi energi, bukan benar-benar menguranginya.

Dengan kata lain, WFH bukan sekadar soal “kerja dari rumah”, tetapi bagaimana sistem kerja, operasional kantor, dan perilaku individu bisa selaras untuk benar-benar menciptakan efisiensi energi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU