HOLOPIS.COM, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dilaporkan perpanjang proyeksi operasi militernya terhadap Iran. Dengan langkah itu, perang AS-Israel vs Iran berpotensi berlangsung jauh lebih lama.
Laporan terbaru menyebut Washington mulai mempersiapkan skenario perang hingga 100 hari, bahkan bisa berlanjut sampai musim gugur.
Media AS, Politico, melaporkan bahwa militer Negeri Paman Sam itu tengah perkuat kemampuan intelijen sebagai bagian dari persiapan menghadapi konflik berkepanjangan. Langkah ini dilakukan ketika Washington bersama Israel melanjutkan operasi militer terhadap Iran yang telah memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan itu, United States Central Command (CENTCOM) minta Pentagon mengerahkan tambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida.
Penguatan ini ditujukan untuk mendukung operasi militer melawan Iran selama setidaknya 100 hari dan berpotensi berlangsung hingga September.
Permintaan tersebut menjadi indikasi pertama bahwa pemerintahan Donald Trump mulai meningkatkan sumber daya intelijen untuk perang. Selain itu, memperlihatkan Washington sedang mempersiapkan kampanye militer yang jauh lebih panjang dibandingkan yang sebelumnya disampaikan kepada publik.
Pada awal konflik, Presiden AS Donald Trump dengan pede menyatakan operasi militer terhadap Iran kemungkinan hanya berlangsung sekitar empat hingga lima minggu. Namun, ia juga beri peringatan bahwa operasi tersebut dapat berjalan lebih lama dari perkiraan.
“Operasi ini mungkin berlangsung empat sampai lima minggu, tetapi bisa saja berlangsung jauh lebih lama dari itu,” kata Trump sebelumnya dikutip dari Middle East Eye, Jumat, (6/3/2026).
Kini, mobilisasi cepat personel dan sumber daya militer menunjukkan bahwa pemerintah AS tengah bersiap menghadapi konflik yang jauh lebih kompleks.
Laporan Politico menyebut langkah tergesa-gesa di dalam Pentagon memperlihatkan bahwa Washington kemungkinan meremehkan dampak dari serangan yang dilancarkan bersama Israel terhadap Iran.
Operasi militer dalam skala besar seperti ini biasanya direncanakan berbulan-bulan sebelumnya. Namun, pergerakan mendadak di internal Pentagon menunjukkan bahwa sejumlah pejabat militer tidak sepenuhnya memprediksi eskalasi konflik yang terjadi. Apalagi, Iran beri perlawanan dengan melakukan serangan balasan yang bertubi-tubi.
Langkah AS yang perpanjang operasi hingga 100 hari menunjukkan bahwa konflik ini berpotensi berubah menjadi perang yang lebih panjang dan kompleks di Timur Tengah. Dengan meningkatnya korban jiwa serta serangan balasan Iran terhadap kepentingan AS di kawasan, para analis memperingatkan risiko eskalasi regional semakin besar.


