HOLOPIS.COM, Jakarta — Pemerintah China menyerukan pengendalian diri semua pihak dan penyelesaian melalui dialog di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers rutin, Rabu, 25 Februari 2026.
“Eskalasi ketegangan di Timur Tengah tidak menguntungkan pihak mana pun,” kata Mao Ning, sebagaimana dikutip dari Global Times.
Ketegangan AS-Iran kembali memanas setelah laporan menyebut Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi serangan terbatas untuk menekan Iran agar menyetujui tuntutan terkait program nuklirnya. Keputusan final disebut belum diambil karena Washington masih menunggu proposal terbaru dari Teheran sebelum negosiasi lanjutan di Jenewa.
AS mulai mengambil langkah antisipatif dengan memerintahkan diplomat non-esensial beserta keluarga mereka meninggalkan Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon. Militer AS juga memperkuat kehadirannya di kawasan dengan mengerahkan dua kapal induk, USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, ke perairan sekitar Iran, dilengkapi jet tempur dan armada laut tambahan.
Iran merespons dengan menggelar latihan militer di wilayah selatannya. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memperingatkan bahwa setiap agresi tidak hanya akan berdampak pada satu negara, melainkan berpotensi memicu eskalasi lebih luas di kawasan.
Latar Belakang
Ketegangan AS-Iran bukan hal baru. Hubungan keduanya memburuk sejak 2018 ketika Trump pada masa jabatan pertamanya menarik AS dari perjanjian nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati pada 2015, dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi berat terhadap Teheran. Iran kemudian secara bertahap meningkatkan pengayaan uranium melampaui batas yang ditetapkan JCPOA.
Ketegangan sempat memuncak pada Januari 2020 ketika AS membunuh Jenderal Qasem Soleimani di Baghdad, yang dibalas Iran dengan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak. Upaya negosiasi nuklir beberapa kali dilakukan namun tak pernah menghasilkan kesepakatan baru. Kini, dengan kembalinya Trump ke Gedung Putih dan berlanjutnya pengayaan uranium Iran, tekanan diplomatik dan ancaman militer kembali mengemuka sebagai instrumen utama dalam hubungan kedua negara.

