HOLOPIS.COM, YOGYAKARTA – Ramadan identik dengan ibadah dan pengendalian diri, namun bukan berarti kesehatan dan kebugaran tubuh boleh diabaikan. Perubahan pola makan dan minum selama puasa membuat masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur aktivitas fisik agar tetap aman dan bugar.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dokter spesialis jantung, Gagah Buana Putra menjelaskan, bahwa prinsip utama olahraga adalah ketersediaan energi yang cukup.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan cairan selama berjam-jam sehingga aktivitas fisik menjadi tantangan tersendiri.
Menurutnya, olahraga dalam kondisi tubuh yang tidak fit atau tanpa cadangan energi memadai dapat berdampak buruk. Gejala seperti pusing, lemas, haus berlebihan, hingga hampir pingsan menjadi tanda tubuh kekurangan energi atau cairan.
Dalam kondisi tersebut, aktivitas fisik tidak boleh dipaksakan, bahkan puasa dapat dibatalkan demi keselamatan. Meski begitu, olahraga saat Ramadan tidak sepenuhnya dilarang. Kunci utamanya terletak pada pengaturan waktu dan intensitas.
Sahur yang cukup bisa menjadi modal energi untuk beraktivitas, namun olahraga di siang hari sebaiknya dilakukan secara ringan dan tidak berlebihan karena energi tersebut masih dibutuhkan hingga waktu berbuka.
“Secara medis, waktu terbaik untuk berolahraga adalah setelah berbuka puasa. Saat itu cadangan energi sudah terisi kembali dan risiko dehidrasi lebih kecil,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Holopis.com, Minggu (22/2/2026).
Dengan asupan makanan dan minuman yang cukup, risiko hipoglikemia maupun dehidrasi dapat ditekan sehingga olahraga menjadi lebih aman dan nyaman.
Atur Intensitas, Hindari Risiko
Dr. Gagah mengingatkan, olahraga berlebihan saat puasa dapat menimbulkan risiko serius. Selain gula darah yang bisa turun drastis, kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar dapat mengganggu fungsi jantung.
Ketidakseimbangan elektrolit berpotensi memicu gangguan irama jantung, sementara dehidrasi berat dapat berdampak pada fungsi ginjal.
Ia juga menekankan pentingnya memahami perbedaan olahraga rekreatif dan latihan kebugaran terukur. Aktivitas seperti tenis atau padel tergolong rekreatif dan bertujuan menjaga kesehatan mental.
Kegiatan tersebut cukup dilakukan satu hingga dua kali dalam sepekan dan tidak disarankan terlalu sering karena risiko cedera lebih tinggi, kecuali bagi atlet dengan persiapan fisik khusus.
Untuk kesehatan jangka panjang, latihan yang rutin dan terukur lebih dianjurkan. Latihan aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang mampu meningkatkan kapasitas jantung dan paru dalam mengolah oksigen. Intensitasnya tidak perlu berat, namun konsistensi menjadi kunci.
Latihan kekuatan juga penting untuk menjaga massa otot dan kepadatan tulang, sekaligus membantu tubuh menggunakan energi lebih optimal serta mencegah penumpukan lemak. Di tengah meningkatnya kasus resistensi insulin dan obesitas, latihan ini menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.
Sebagai penutup, dr. Gagah menegaskan bahwa puasa tetap menjadi ibadah utama selama Ramadan. Risiko dehidrasi dan kekurangan energi tetap ada jika olahraga dilakukan tanpa asupan yang memadai. Karena itu, memindahkan waktu olahraga setelah berbuka puasa menjadi pilihan paling aman agar ibadah tetap terjaga dan kesehatan tidak dikorbankan.

