Minggu, 22 Feb 2026
BREAKING
Minggu, 22 Feb 2026
MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

Lahan Rawa Disulap Jadi Ladang Hidroponik, Warga Kini Gembira Panen Melon Premium

9 Shares

HOLOPIS.COM, SIDOARJO – Wisata Petik Melon di Desa Jumputrejo, Sukodono, Sidoarjo, menjadi destinasi baru yang menarik perhatian masyarakat. Lahan seluas 11 x 24 meter persegi (dikali dua) yang dulunya rawa-rawa dan tempat buang sampah, kini menjadi kebun melon hidroponik yang produktif.

Empat jenis melon premium ditanam di sini, yaitu ; Lavender, The Blues, Dalmation, dan Golden Kinanti.

- Advertisement -

Harga melon ini dibanderol Rp25.000 per kg, namun tidak mengurangi minat warga untuk membelinya. Banyak warga yang datang untuk memetik melon langsung dari pohonnya dan menikmati kesegaran buah melon yang baru dipanen.

Sejumlah pengunjung mengaku penasaran dengan tanaman melon yang menggunakan sistem hidroponik. Menurutnya, melon ini memiliki rasa manis dan harga terjangkau.

- Advertisement -

“Untuk konsumsi sendiri. Karena tertarik dengan metode tanam melon yang digantung, dan sepertinya enak,” ucap Anita salah satu pengunjung.

“Rasanya manis, membuat kami ketagihan. Melon ini untuk digunakan sebagai takjil saat berbuka puasa,” kata Nunuk.

Ketua BUMDes Gading Makmur Desa Jumputrejo Sukodono, Imam Mukozali mengungkapkan bahwa melon ditanam pada 15 Desember 2025 dan sudah bisa dipanen sekitar 60-70 hari kemudian.

“Kami berharap wisata petik melon perdana ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan bisa menjadi icon Desa Jumputrejo Sukodono,” ujarnya.

Kebun melon ini merupakan inisiatif BUMDes Gading Makmur Desa Jumputrejo, yang bertujuan meningkatkan ketahanan pangan dan perekonomian lokal. Dengan sistem hidroponik, kebun melon ini dapat menghasilkan buah melon yang berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.

Sistem hidroponik yang digunakan dalam penanaman melon di Desa Jumputrejo, Sukodono, Sidoarjo, memang memiliki beberapa kelebihan. Salah satunya adalah kualitas melon yang lebih terjaga karena tanaman tidak bersentuhan langsung dengan tanah, sehingga mengurangi risiko penyakit dan kerusakan.

“Melon yang ditanam dengan sistem hidroponik dan pakai pipa ini saya kira lebih bagus kualitasnya ya. Satu karena terjaga kualitas dari tanaman liar. Kedua insyaallah rasanya ini lebih lebih manis,” terangnya.

Selain itu, sistem hidroponik juga memungkinkan kontrol nutrisi yang lebih akurat, sehingga tanaman dapat menyerap nutrisi yang dibutuhkan secara optimal. Hal ini dapat mempengaruhi rasa dan kualitas melon, membuatnya lebih manis dan segar.

“Melon hidroponik ini memang lebih bagus kualitasnya, rasanya lebih manis dan segar,” tandas Imam Mukozali.

Sementara itu, Kepala Desa Jumputrejo Sukodono, Widarto mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota dan Ketua BUMDes Gading Makmur yang telah memberikan kontribusi berupa tanaman melon. Ia menaruh harapan besar pada saat panen berikutnya, kualitas Melon bisa lebih bagus lagi.

“Karena ini panen perdana, akan kami evaluasi dan semoga panen berikutnya bisa lebih bagus,” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
9 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru