HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap tegas negaranya yang tak mau menyerah terhadap tekanan dari Amerika Serikat (AS). Manuver AS melalui Presiden Donald Trump terus memantik ketegangan terkait program nuklir Teheran.
Omongan itu disampaikan Pezeshkian menyusul komentar Donald Trump yang mengaku tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas ke Teheran. Ancaman dari Trump itu untuk memaksa Iran mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklirnya.
Dalam pidatonya pada sebuah acara penghormatan bagi tim Paralimpiade Iran, Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan global. Kata dia, tekanan itu dinilainya berupaya melemahkan kedaulatan Iran.
“Kami tidak akan tunduk menghadapi kesulitan apa pun,” kata Pezeshkian dikutip dari Al Jazerra, Minggu, (22/2/2026).
Dia menyindir tekanan global seperti berbaris dengan pengecut. “Kekuatan dunia berbaris dengan pengecut untuk memaksa kami menundukkan kepala. Sama seperti Anda tidak tunduk menghadapi kesulitan, kami tidak akan tunduk menghadapi masalah ini,” lanjut Pezeshkian.
Ketegangan antara Iran vs AS kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir dan jadi sorotan global. Hal itu seiring langkah Washington memperkuat kehadiran militernya di kawasan Teluk.
Pemerintah AS dilaporkan telah mengerahkan dua kapal induk serta puluhan jet tempur sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap Teheran.
Di tengah situasi itu, kedua negara sebenarnya masih melakukan perundingan terkait program nuklir Iran. Negosiasi pertama berlangsung di Oman pada awal Februari. Perundingan dilanjutkan dalam putaran kedua di Jenewa, Swiss pekan lalu.
Meski Washington dan Teheran sama-sama mengklaim proses perundingan berjalan dalam suasana positif, hingga kini belum ada terobosan signifikan yang dicapai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan bahwa solusi diplomatik masih memungkinkan untuk diwujudkan dalam waktu dekat.
“Solusi diplomatik tampaknya berada dalam jangkauan kita,” ujar Araghchi.
Araghchi seraya menyampaikan bahwa Iran berencana merampungkan draf kesepakatan dalam “dua hingga tiga hari ke depan” sebelum dikirimkan ke Washington.
Adapun, laporan dari Al Jazeera menyampaikian situasi saat ini menempatkan kedua negara di persimpangan krusial antara diplomasi dan potensi konflik terbuka.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan perang pun mulai dirasakan oleh rakyat sipil di Teheran, ibu kota Iran. Seorang warga Teheran mengungkapkan kecemasannya terhadap masa depan di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
“Bagaimana mungkin seseorang tidak khawatir tentang perang? Bahkan jika kita tidak mengkhawatirkan diri kita sendiri, kita mengkhawatirkan masa depan anak-anak kita,” katanya kepada Al Jazeera.

