HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah akselerasi transformasi digital dan persaingan bisnis yang semakin ketat, fenomena burnout atau kelelahan mental di lingkungan kerja kini menjadi ancaman nyata yang sering terabaikan. Founder Restorasi Jiwa Indonesia dan Satya Mindcare, Syam Basrijal, menekankan bahwa organisasi masa kini cenderung hanya fokus pada budaya performa tinggi tanpa diimbangi dengan budaya pemulihan emosional.
Menurut Syam, banyak perusahaan yang secara administratif terlihat produktif dengan laporan kinerja yang rapi, namun gagal menyadari adanya “kelelahan makna” pada sumber daya manusianya. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini muncul ketika karyawan kehilangan koneksi dengan alasan fundamental mengapa mereka bekerja.
“Burnout bukan sekadar kelelahan fisik. Ia adalah kelelahan makna. Ia muncul ketika seseorang terus bekerja, tetapi kehilangan hubungan dengan alasan mengapa ia bekerja,” ujar Syam dalam keterangan resminya, Rabu (18/2/2026).
Dampak Ekonomi dan Stabilitas Mental
Syam menyoroti bahwa budaya kerja yang terlalu kompetitif dan minim ruang dialog menciptakan kecemasan kronis. Jika terus dibiarkan, hal ini tidak hanya merusak individu tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi perusahaan, mulai dari tingginya angka turnover hingga membengkaknya biaya rekrutmen.
Ia memperingatkan bahwa organisasi yang mengabaikan kesehatan mental sebenarnya sedang menggerus nilai jangka panjang mereka sendiri. Ketidakstabilan batin karyawan sering kali tersamar dalam bentuk sikap apatis atau penurunan konsentrasi yang kerap disalahartikan sebagai masalah disiplin.
“Organisasi yang tidak peka akan membaca gejala ini sebagai kurang disiplin, padahal akar masalahnya adalah kelelahan psikologis,” tegasnya.
Transformasi Kepemimpinan dan Organisasi Berbasis Kesadaran
Sebagai solusi, Syam menawarkan model organisasi berbasis kesadaran. Pendekatan ini menuntut adanya pelatihan regulasi emosi bagi manajemen, ruang dialog yang aman, serta evaluasi kinerja yang mempertimbangkan keseimbangan beban kerja.
Syam berpendapat bahwa pemimpin masa kini tidak cukup hanya memiliki kecerdasan strategis, tetapi harus memiliki kecerdasan emosional untuk menciptakan keamanan psikologis bagi timnya. Hal ini dianggap sebagai fondasi utama inovasi.
“Organisasi mencerminkan kualitas emosional pemimpinnya. Jika pemimpin gelisah, tim ikut gelisah. Jika pemimpin stabil, tim merasa aman,” tambah Syam.
Membangun Manusia sebagai Aset Utama
Menutup keterangannya, Syam mengajak para pelaku industri untuk melihat manusia sebagai aset utama, bukan sekadar sumber daya dalam sistem. Ia meyakini bahwa daya tahan sebuah perusahaan di masa depan sangat bergantung pada kualitas mental orang-orang di dalamnya.
“Dunia kerja yang produktif namun tidak pulih akan cepat atau lambat mengalami retakan. Dunia kerja yang produktif dan pulih akan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Melalui sinergi Restorasi Jiwa Indonesia dan Satya Mindcare, Syam berharap perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai berani bertransformasi menjadi organisasi yang sadar dan stabil secara batin demi mencapai kekuatan organisasi yang sesungguhnya.
“Perusahaan yang ingin bertahan puluhan tahun harus berani melihat manusia sebagai aset utama, bukan sekadar sumber daya. Karena pada akhirnya, sistem terbaik sekalipun tetap dijalankan oleh manusia. Dan manusia yang stabil secara batin adalah fondasi organisasi yang benar-benar kuat,” pungkasnya.

