HOLOPIS.COM, JAKARTA – Aktivis 98, Dodi Ilham menilai bahwa politik di Indonesia masih sangat primitif, di mana pola yang berlaku seperti sandera menyandera dalam aspek kepentingan.
“Politik di Indonesia ini sangat primitif, karena yang ada adalah politik imparsial kepentingan yang disebut sandera-menyandera,” kata Dodi dalam dialog Madilog seperti dikutip Holopis.com, Selasa (17/2/2026).
Menurut Dodi, Indonesia akan sulit berkembang dan maju jika para elite-nya masih melakukan politik imparsial kepentingan semacam itu.
“Kapan bangsa ini menuju tujuannya itu, tujuan demokrasi keadilan sosial itu kapan, kalau antar elite-nya masih saling sandera-menyandera,” ujarnya.
Ketika seseorang tersandera dengan pola ini, maka ia tidak akan bisa bergerak sesuai dengan hati nurani rakyat. Karena segala bentuk dukungannya menurut Dodi, disebabkan oleh aibnya yang tidak dibongkar oleh lawan politiknya.
Dan ini yang menurut Dodi terjadi pada salah satu mantan jenderal TNI yang memberikan kritik keras kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, serta struktur organisasi Kepolisian di Indonesia.
Orang tersebut kata Dodi, langsung dibuka segala aibnya ketika menyuarakan uneg-uneg di pikirannya dalam ruang publik.
“Kemarin aja ada seorang jenderal TNI ngomong keras terhadap pernyataannya Jenderal Listyo Sigit langsung dibongkar aibnya, muncul di media sosial,” tukasnya.
Oleh sebab itu, ironi ini yang seharusnya dapat diurai dengan baik sehingga politik nasional bisa tumbuh lebih dewasa demi kepentingan kebaikan dan kemajuan bangsa dan negara, bukan lagi memberlakukan politik primitif.
“Mendukung karena aib-aibnya ditutupi, mau berkata benar karena ada kepentingan, bukan kepentingan kepada masyarakat luas tapi kepentingan dirinya. Ini yang saya bilang politik imparsial kepentingan, primitif,” tegasnya.

