HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah (Jateng), Sudaryono angkat bicara terkait program gentengisasi yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sudaryono menyayangkan masih adanya pihak yang mengkritik program tersebut tanpa memahami substansi dan urgensinya. Menurutnya, gentengisasi bukan sekadar mengganti atap, melainkan menyangkut aspek keselamatan dan kesehatan penghuni rumah.
Ia menjelaskan, program pemerintah tersebut mendorong penggantian atap rumah warga dari seng berkarat maupun asbes ke genteng berbahan tanah liat. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Atap seng yang berkarat dan asbes itu bahaya, bisa memicu penyakit paru sampai kanker karena partikel mikronya yang terhirup,” kata Mas Dar, sapaan akrab Sudaryono dalam unggahan di akun Instagram resminya, dikutip Holopis.com, Senin (16/2/2026).
“Kita tidak ingin masyarakat terus-terusan terpapar risiko kesehatan hanya gara-gara urusan material atap yang tidak layak dan merusak badan,” sambungnya.
Selain faktor kesehatan, Sudaryono menilai penggunaan genteng tanah liat maupun bahan alami lain seperti sirap dan ijuk mampu menjaga stabilitas suhu ruangan. Rumah menjadi tidak terlalu panas saat siang hari sehingga lebih nyaman ditinggali.
Program gentengisasi juga disebut berdampak pada aspek estetika hunian. “Selain bikin sehat, rumah jadi terlihat lebih bermartabat dan rapi dipandang mata,” ujar Mas Dar.
Tak hanya menyasar perbaikan atap, gerakan ini turut mencakup pembenahan sanitasi dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) agar standar hidup masyarakat meningkat secara menyeluruh.
“Kita ingin Indonesia yang indah, bersih, dan warganya hidup dalam hunian yang memanusiakan penghuninya,” tutur pria yang juga menjabat Wakil Menteri Pertanian itu.
Di akhir pernyataannya, Sudaryono mengajak seluruh pihak untuk mendukung program tersebut demi kepentingan masyarakat luas.
“Stop pelihara kebencian yang menutup mata kita dari langkah baik untuk orang banyak. Mari kawal bersama supaya tidak ada lagi rumah warga yang justru menjadi sumber penyakit bagi keluarganya sendiri,” pungkasnya.


