HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di antara riuhnya kota Surabaya, berdiri sebuah bangunan megah yang seolah menolak disentuh waktu. Orang-orang menyebutnya Rumah Hantu Darmo—sebuah rumah tiga lantai yang menjulang sunyi di Jalan Puncak Permai II Nomor 26.
Dindingnya masih tampak kokoh, jendelanya tinggi dan lebar, namun tak pernah benar-benar terbuka. Seakan ada sesuatu di dalamnya yang memilih untuk tetap terkurung atau mungkin sengaja mengurung siapa pun yang berani masuk.
Konon, rumah itu dibangun dari kekayaan yang tidak wajar. Desas-desus yang beredar mengatakan bahwa keluarga yang dahulu tinggal di sana memperoleh harta melalui praktik pesugihan. Kekayaan mengalir deras, tetapi bukan tanpa harga.
Setiap periode tertentu, mereka diwajibkan memberikan tumbal dan sesajen persembahan yang tak pernah diketahui pasti bentuknya, namun cukup membuat warga sekitar enggan membicarakannya terlalu keras.
Selama bertahun-tahun, ritual itu berjalan. Lampu-lampu rumah tetap menyala terang di malam hari, pesta-pesta terdengar dari dalam, dan kehidupan tampak sempurna dari luar pagar besi yang menjulang tinggi. Namun kesempurnaan itu ternyata rapuh.
Suatu ketika, keluarga tersebut memutuskan untuk menghentikan semuanya. Mereka tak lagi ingin memberikan tumbal. Mereka ingin bebas dari ikatan gelap yang selama ini menyertai kekayaan mereka.
Dalam diam, mereka meninggalkan rumah itu dan mencoba melarikan diri melalui jalur laut, berharap bisa memulai hidup baru jauh dari bayang-bayang perjanjian lama.
Namun laut tak pernah berbohong. Kapal yang mereka tumpangi dikabarkan tenggelam. Tak satu pun anggota keluarga selamat. Tubuh-tubuh mereka tak pernah kembali dengan utuh, seolah lautan sendiri menagih janji yang telah mereka ingkari.
Tragedi belum berhenti di sana. Dua penjaga rumah yang ditinggalkan ditemukan tewas secara mengenaskan. Tidak ada saksi. Tidak ada pelaku yang tertangkap. Kasusnya menguap begitu saja, meninggalkan pertanyaan yang menggantung hingga hari ini.
Sejak saat itu, rumah mewah itu kosong atau setidaknya terlihat kosong. Warga sekitar kerap mengaku melihat bayangan melintas di balkon lantai tiga. Ada pula yang mendengar suara langkah kaki berat di tengah malam, disusul aroma dupa yang samar tercium dari balik gerbang berkarat.
Rumah itu masih berdiri, membisu, menyimpan kisah tentang kekayaan yang dibayar terlalu mahal. Di siang hari, ia hanyalah bangunan tua yang terlupakan.
Tetapi ketika malam turun di Surabaya, dan angin berdesir pelan melewati Jalan Puncak Permai, Rumah Hantu Darmo seperti kembali hidup menunggu, entah siapa lagi yang berani menantang kisah kelam di balik pintunya.

