Aksi PMII di Kantor Bupati Karawang Berujung Ricuh, Mahasiswa Desak Reformasi Kinerja OPD

13 Shares

HOLOPIS.COM, KARAWANG – Eskalasi politik di Kabupaten Karawang memanas setelah aksi unjuk rasa yang digelar oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berakhir ricuh. Demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor Bupati Karawang pada Jumat (13/2) ini semula berjalan tertib sebelum akhirnya berubah menjadi aksi saling dorong yang menegangkan.

Massa mulai memadati area depan gerbang kantor pemerintahan sejak pagi hari dengan membawa sejumlah spanduk bernada kecaman dan tuntutan. Orasi yang disampaikan para aktivis menyoroti rapor merah kinerja Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang di berbagai sektor pelayanan publik.

- Advertisement -

Ketegangan mulai memuncak saat massa pengunjuk rasa mencoba merangsek masuk ke area perkantoran untuk menemui Bupati Karawang secara langsung. Upaya mendobrak pintu gerbang utama memicu bentrokan fisik dengan aparat keamanan.

Aksi saling dorong antara mahasiswa dengan petugas gabungan dari Polres Karawang dan Satpol PP pun tak terhindarkan. Suasana semakin semrawut ketika beberapa botol air mineral melayang ke arah barikade petugas, sementara aparat terus bertahan membentuk pagar manusia untuk menghalau massa yang kian beringas.

- Advertisement -

Ketua PMII Cabang Karawang, Mardika, menegaskan bahwa aksi ini merupakan kulminasi dari keresahan masyarakat atas lambannya penanganan masalah krusial di Karawang. Dalam kajian mendalam yang dilakukan PMII, terdapat lima sektor utama yang dianggap gagal memenuhi ekspektasi publik, yakni infrastruktur jalan, penanganan banjir, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, serta tata kelola birokrasi.

“Berdasarkan hasil kajian kami, sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan masyarakat masih dalam kondisi memprihatinkan. Pelaksana teknisnya ada di Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sehingga kami mendesak agar OPD-OPD ini dirapikan, dievaluasi, dan diawasi secara serius oleh pimpinan daerah,” tegas Mardika di tengah keriuhan aksi.

Mardika juga mengkritik pola kerja pemerintah yang dianggap reaktif atau hanya bergerak saat sebuah isu menjadi viral di media sosial. Ia menyoroti banyaknya jalan berlubang dan tanggul jebol yang baru diperbaiki setelah memakan korban atau mendapat kecaman luas dari netizen.

Menurutnya, pola perawatan infrastruktur harus bersifat berkala dan terencana, bukan sekadar pemadam kebakaran saat masalah sudah membesar.

Setelah ketegangan berlangsung selama hampir tiga puluh menit, situasi perlahan mereda ketika Wakil Bupati Karawang bersedia keluar untuk menemui perwakilan mahasiswa. Meskipun sempat terjadi perdebatan alot, massa akhirnya diizinkan masuk secara terbatas ke ruang audiensi guna menyampaikan draf tuntutan mereka secara formal.

Aparat kepolisian tetap berjaga ketat di sekitar lokasi hingga massa membubarkan diri dengan tertib. Namun, PMII memberikan peringatan keras bahwa audiensi ini bukanlah akhir dari pergerakan mereka.

Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan infrastruktur dan reformasi birokrasi, PMII mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa yang jauh lebih besar.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
13 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru