HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di Lembah Bamiyan, Afghanistan, terdapat reruntuhan kuno sebuah kota yang dikenal dengan nama Shahr-e Ghulghola atau City of Screams (Kota Jeritan). Lokasi ini menjadi saksi salah satu tindakan pembantaian paling brutal dalam sejarah wilayah tersebut, sehingga namanya mencerminkan penderitaan dan jeritan yang pernah menggema di kawasan itu.
Shahr-e Ghulghola dahulunya merupakan bagian dari peradaban yang berkembang di bawah kekuasaan kerajaan Muslim di Lembah Bamiyan. Kota ini mengalami masa kejayaan pada abad ke-11 ketika arsitektur dan kehidupan kota berkembang pesat, termasuk pembangunan istana dan pertahanan yang kuat di sekitar kota.
Namun, tragedi besar terjadi pada tahun 1221, ketika pasukan Mongol di bawah kekuasaan Jenghis Khan menyerbu kota ini. Ketika salah satu cucu kesayangan Jenghis Khan tewas dalam pertempuran saat pengepungan, hal itu lalu memicu kemarahan besar sehingga seluruh penduduk kota laki-laki, perempuan, anak-anak dibantai tanpa ampun. Kekejaman ini menghancurkan kehidupan dan struktur kota hingga tak seorang pun tersisa, dan sejak itu tempat ini dikenal sebagai City of Screams karena suara penderitaan dan jeritan korban.
Puing-puing Shahr-e Ghulghola kini menjadi situs arkeologis yang menyimpan sisa-sisa kota yang hancur. Bekas benteng, tembok, dan fragmen bangunan memperlihatkan jejak kehidupan yang pernah ada, sekaligus menjadi pengingat akan kehancuran yang menimpa komunitas ini.
Tidak jauh dari kota yang hancur tersebut, Lembah Bamiyan juga terkenal dengan dua patung Buddha raksasa yang pernah berdiri tegak di tebing lembah. Patung-patung ini dibentuk pada abad ke-6 tetapi dirusak oleh Taliban pada tahun 2001, sebuah tindakan yang menambah lapisan tragedi lain di kawasan tersebut dan menegaskan betapa kawasan ini pernah menjadi tempat konflik dan kekerasan berkepanjangan.
Kota Jeritan tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga menjadi simbol dari penderitaan kolektif akibat kekejaman perang dan pembasmian. Nama City of Screams tetap melekat karena peristiwa brutal di masa lalu yang terus diingat oleh sejarawan, arkeolog, dan pengunjung yang datang melihat reruntuhan itu sendiri.

