HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah menargetkan proyek hilirisasi peternakan ayam senilai Rp20 triliun mampu meningkatkan produksi nasional sekaligus menciptakan sekitar 1,46 juta lapangan kerja baru. Proyek ini juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok peternakan dalam negeri serta melindungi peternak kecil dari praktik perang harga.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, penunjukan BUMN pangan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD oleh Danantara dalam proyek tersebut bertujuan memastikan pengelolaan rantai pasok peternakan ayam berjalan tertib dari hulu hingga hilir.
“Kenapa BUMN kita libatkan? Kalau BUMN-nya macam-macam, kita copot. Sederhana, kan?,” ujar Amran kepada wartawan di Jakarta, dikutip Holopis.com, Selasa (10/2/2026).
Amran menjelaskan, proyek dengan total nilai investasi sekitar Rp20 triliun ini dirancang untuk melancarkan rantai pasok sekaligus memberi kepastian usaha bagi peternak kecil di dalam negeri. Dalam skema tersebut, BUMN akan difokuskan untuk mengelola sektor hulu, mulai dari penyediaan dan produksi pakan ternak hingga budidaya bibit unggul anak ayam umur satu hari atau day old chick (DOC).
“Jadi nanti BUMN bergeraknya di hulu, itu di pakan dan DOC. Ini nanti menjamin suplai ke peternakan kecil yang akan ikut. [Dibelakang BUMN] ada pemerintah, nggak mungkin macam-macam direksinya,” tutur dia.
Melalui penguatan sektor hulu, pemerintah menargetkan peningkatan produksi nasional sebesar 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun. Lonjakan produksi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis peternakan rakyat.
Amran menegaskan, keberadaan pemerintah dalam proyek ini bertujuan menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan berpihak pada peternak kecil, bukan semata-mata mengejar keuntungan korporasi.
“Ini jadi ada garis komandonya. ‘Kamu naikkan harga atau menyusahkan peternak, ya ditindak’. Nah ini yang awalnya banyak yang salah paham. Dipikir ini harus seperti perusahaan swasta. Ini nggak. Pemerintah di hulu sebagai stabilisator.”
Saat ini, proyek hilirisasi peternakan ayam tersebut telah memasuki tahap awal dengan pelaksanaan groundbreaking fase pertama di enam wilayah Indonesia, di antaranya Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Lampung.
Ke depan, ekosistem yang dibangun tidak hanya mencakup pembibitan ayam dari hulu (GPS, PS, FS), tetapi juga pengembangan pakan berbasis bahan baku dalam negeri, peningkatan kesehatan hewan, pembangunan rumah potong hewan unggas (RPHU) dan cold chain, pengolahan daging dan telur, hingga sektor logistik dan pemasaran.
Dengan skema terintegrasi tersebut, pemerintah optimistis proyek ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional, terutama melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan peternak kecil, serta stabilitas pasokan dan harga pangan unggas.

