HOLOPIS.COM, JAKARTA – Legenda Batu Menangis adalah salah satu cerita rakyat yang terkenal dan terus hidup dalam tradisi lisan masyarakat Kalimantan Barat. Cerita ini bukan sekadar dongeng, melainkan juga menyimpan pesan moral yang kuat tentang sikap, rasa hormat kepada orang tua, dan konsekuensi dari perilaku durhaka yang diwariskan secara turun-temurun.
Asal Mula Legenda Batu Menangis
Dahulu kala, di sebuah perkampungan terpencil di Kalimantan Barat, hiduplah seorang janda bersama seorang gadis cantik bernama Darmi yang tak lain adalah anaknya. Suaminya sudah lama meninggal, sehingga ibu Darmi harus bekerja keras setiap hari di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Kulitnya menjadi gelap dan tubuhnya semakin kurus karena kerja keras di bawah terik matahari, semua demi mencukupi kebutuhan keluarga kecil itu.
Berbeda dengan sikap ibunya yang penuh pengorbanan, Darmi justru dikenal sombong, pemalas, dan sangat memikirkan kecantikannya sendiri. Setiap hari ia sibuk berdandan, bersolek, dan bercermin, tanpa peduli membantu ibunya dalam pekerjaan rumah atau ladang yang melelahkan. Sikap ini membuat hubungan mereka penuh ketegangan dan membuat hati sang ibu panjang menanggung beban emosional.
Suatu hari, ibunya meminta Darmi membantu pekerjaan rumah, dan memintanya sekadar mengantarkan makanan ke ladang. Permintaan sang ibu ditolak oleh Darmi, ia tak berniat membantu meringankan pekerjaan ibunya karena takut kulitnya menjadi gelap atau rambutnya kotor.
Darmi bahkan dengan tega mempermalukan ibunya di hadapan orang lain saat mereka berada di pasar, mengatakan bahwa wanita tua yang menemani dirinya bukanlah ibunya melainkan pembantunya. Ucapan inilah yang membuat hati sang ibu hancur berkeping-keping.
Kesedihan dan keputusasaan sang ibu mencapai puncaknya. Ia bersimpuh di tanah, menangis, dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar segala penderitaannya diakhiri. Tak lama kemudian, langit pun berubah kelam dan angin berhembus kencang. Tetapi yang terjadi sungguh mengejutkan. Darmi yang berada di antara kerumunan menjadi semakin berat kakinya, tubuhnya lalu perlahan berubah menjadi batu. Dalam keadaan itu, Darmi masih menangis ketakutan dan memanggil-manggil ibunya.
Penduduk sekitar kemudian mengangkat batu yang menjadi wujud Darmi dan menempatkannya di tepi tebing menghadap langit. Karena dari dalam batu itu air mata terus mengalir, penduduk menyebutnya Batu Menangis. Sejak saat itu, legenda itu menjadi pengingat masyarakat setempat bahwa durhaka kepada orang tua dapat membawa malapetaka, sekaligus sebagai simbol rasa penyesalan dan kasih sayang seorang ibu.
Meskipun kisah ini dipercaya secara budaya dan sering diceritakan di berbagai daerah, secara ilmiah belum ada bukti bahwa batu tersebut berasal dari kutukan atau kejadian supernatural. Fenomena seperti air yang tampak keluar dari batu dapat dijelaskan oleh kondisi alam, seperti rembesan air karena kelembaban atau faktor geologi lainnya. Namun, legenda ini tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya yang mengajarkan nilai moral kepada generasi muda.

