HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah gempuran arus informasi digital yang serba cepat, integritas jurnalisme kembali diuji. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, memberikan pesan mendalam: jurnalisme bukan sekadar soal kecepatan, melainkan tentang ketulusan hati.
Pesan tersebut menjadi inti dari acara diskusi dan nonton bareng film dokumenter “Roehana Koeddoes” yang digelar di IDN HQ, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Acara yang digagas IDN Times bersama Yayasan Amal Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) ini menjadi refleksi penting menjelang Hari Pers Nasional 2026.
Irene Umar mengajak para insan pers modern untuk menengok kembali semangat pahlawan nasional Roehana Koeddoes. Sosok yang sejak 1911 telah membuktikan bahwa media bisa menjadi mesin penggerak perubahan sosial yang nyata.
“Siapapun bisa menjadi penjaga integritas jurnalisme. Harapannya, kita bisa menyampaikan berita atau informasi apapun di luar sana dengan berlandaskan hati (based on heart),” tegas Irene dalam sambutannya.
Bagi Irene, Roehana Koeddoes adalah pionir yang menggunakan surat kabar Sunting Melayu bukan hanya sebagai wadah informasi, tetapi sebagai sarana pencerahan bagi perempuan Indonesia untuk meraih kemandirian ekonomi dan pendidikan.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyoroti peran krusial jurnalis perempuan di masa depan. Meski saat ini representasi perempuan di ruang berita baru menyentuh angka 25 persen, Meutya melihat adanya kekuatan unik yang mereka miliki.
“Justru di era digitalisasi, peran jurnalis perempuan menjadi lebih penting dengan memberi sentuhan tulisan yang memiliki unsur empati,” ungkap Meutya. Menurutnya, empati adalah “jangkar” yang menjaga kemanusiaan dalam setiap berita yang diproduksi.
Diskusi yang hangat ini ditutup dengan pesan reflektif dari Ketua Yayasan Amal Setia, Trini Tambu. Ia mengingatkan bahwa perjuangan Roehana Koeddoes belum usai, hanya bentuk medianya saja yang berubah.
“Warisan terbesar dari Roehana Koeddoes adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan, dari manapun asalnya, bisa menggerakkan perubahan. Sekarang pena dan pikiran itu ada di tangan kita, tinggal bagaimana kita menggunakannya,” pungkas Trini.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci lintas generasi, mulai dari Ketua Dewan Pers periode 2025-2028 Komaruddin Hidayat, COO IDN William Utomo, Pemred IDN Times Uni Lubis, hingga putri Proklamator Bung Hatta, Halida Hatta. Mereka hadir dengan satu visi: memastikan jurnalisme Indonesia tetap berintegritas menuju Indonesia Emas 2045.

