Pengamat: MBG Tidak Perlu Dihentikan Meski Ada Ketidakpastian Ekonomi Global

23 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pengamat kebijakan publik Fakhrido Susilo menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak perlu dihentikan meski ada ketidakpastian ekonomi global.

Fakhrido menyatakan tantangan ekonomi global merupakan fenomena umum yang dialami banyak negara tanpa harus membatalkan komitmen sosial mereka.

- Advertisement -

“Dinamika ekonomi global ini tidak hanya dirasakan Indonesia. Seluruh negara di dunia juga menempuh ini. Ada India, Brazil, dan Amerika. Tapi tetap ada tanggung jawab sosial negara yang harus dipenuhi dan mereka tidak menghentikan program midday meal-nya,” ujar Fakhrido dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Direktur Eksekutif lembaga penelitian Kiprah ini menyebut pemerintah memiliki banyak instrumen kebijakan untuk memitigasi dinamika ekonomi tanpa harus mengorbankan MBG.

- Advertisement -

Fakhrido menyoroti fenomena orang tua Indonesia yang bekerja pagi-siang-malam dengan lebih dari satu profesi. Kondisi ini membuat perhatian terhadap gizi anak sering terabaikan.

“Adanya MBG justru meringankan beban orang tua, memastikan anak mendapatkan asupan berkualitas tanpa mengganggu produktivitas kerja mereka,” jelasnya.

Secara makro, MBG dipandang sebagai investasi pada modal manusia (human capital) yang dampaknya tidak instan namun menentukan produktivitas masa depan.

Fakhrido menilai perhatian terhadap gizi anak merupakan fondasi agar investasi infrastruktur fisik tidak sia-sia. “Jika kita punya jalan tol yang luas tapi manusianya tidak berkualitas, bagaimana kita mau bersaing di 2045?” ujarnya.

Agar program tidak menjadi beban fiskal yang tidak efisien, ia menekankan perlunya transparansi tata kelola dan riset berbasis data melalui evaluasi dampak yang melibatkan pihak independen.

“Pemerintah perlu menggandeng lembaga penelitian independen untuk melakukan impact evaluation, sekaligus studi komparatif dengan program serupa dengan efisiensi tinggi seperti India dan Brasil,” tambahnya.

Sementara itu, dr. Rita Ramayulis menyoroti kebijakan ini bisa menjadi katalis bagi ekosistem pangan lokal. Dengan memprioritaskan komoditas daerah, program memiliki potensi menciptakan efek pengganda (multiplier effect) terhadap pendapatan penduduk di tingkat akar rumput.

“Kehadiran program MBG ini sebenarnya untuk mendekatkan dan memudahkan akses ke makanan bergizi,” kata dr. Rita.

Ia menekankan kunci program terletak pada pemanfaatan keanekaragaman pangan lokal yang jika dikelola dengan strategi diversifikasi tepat dapat menekan biaya logistik sekaligus menggerakkan sektor UMKM.

“Kalau kita fokus pada pangan lokal, aneka ragam pangan anak meningkat, lapangan pekerjaan dan pendapatan penduduk pun tentu ikut naik. Jadi efek ekonominya nyata,” jelasnya.

Pendekatan berbasis potensi lokal ini diharapkan mampu menjawab keraguan publik terkait stabilitas stok dan efisiensi biaya dalam jangka panjang.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
23 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru