HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa berakhirnya perjanjian New START antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia menandai situasi berbahaya bagi perdamaian dan keamanan internasional.
“Untuk pertama kalinya dalam kurun lebih dari setengah abad, kita menghadapi dunia tanpa batasan mengikat apa pun terhadap persenjataan nuklir strategis Federasi Rusia dan AS, dua negara yang memiliki sebagian besar persediaan senjata nuklir global,” ujar Antonio Guterres, dikutip Holopis.com, Rabu (04/02).
Perjanjian New START, yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir serta sistem pengiriman strategis AS dan Rusia, resmi berakhir pada Kamis (05/02). Perjanjian tersebut mulai berlaku pada 2011 dan menjadi kesepakatan pengendalian senjata nuklir terakhir antara kedua negara.
Guterres menekankan bahwa selama era Perang Dingin hingga periode setelahnya, pengendalian senjata nuklir berperan penting dalam mencegah bencana global. Perjanjian tersebut dinilai membantu membangun stabilitas, mengurangi risiko salah perhitungan, serta memfasilitasi pengurangan ribuan senjata nuklir dari persediaan nasional.
Menurut Guterres, berakhirnya New START terjadi di saat yang sangat tidak tepat, mengingat risiko penggunaan senjata nuklir saat ini berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
“Namun di tengah ketidakpastian saat ini, kita harus mencari harapan. Ini adalah kesempatan untuk melakukan pengaturan ulang dan menciptakan sebuah rezim pengendalian senjata yang sesuai dengan konteks yang berubah dengan cepat,” kata Guterres.
Ia juga menyebut pernyataan para pemimpin Amerika Serikat dan Rusia yang menyadari dampak destabilisasi perlombaan senjata nuklir sebagai sinyal positif. Guterres berharap komitmen tersebut dapat diwujudkan dalam langkah nyata.
PBB mendesak AS dan Rusia untuk segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka kerja pengganti New START yang dapat memulihkan batas-batas terverifikasi, menekan risiko, serta memperkuat keamanan global bersama.
Sebagai catatan, New START menjadi perjanjian pengendalian senjata terakhir antara kedua negara setelah AS menarik diri dari Perjanjian Senjata Nuklir Jarak Menengah pada 2019.

