HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (5/2) menyerukan agar Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru atau New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) antara AS dan Rusia digantikan dengan kesepakatan yang lebih “dimodernisasi”.
Dalam pernyataannya di platform media sosial Truth Social, Trump menilai AS seharusnya merancang perjanjian baru yang lebih relevan dengan tantangan masa depan.
“Kita seharusnya menugaskan para pakar nuklir kita untuk merancang sebuah perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi, yang dapat berlaku jangka panjang di masa mendatang,” ujar Donald Trump, dikutip Holopis.com, Jum’at (6/2).
Trump juga menegaskan penolakannya untuk memperpanjang masa berlaku New START yang berakhir pada Kamis. Ia mengkritik perjanjian tersebut sebagai kesepakatan yang dinegosiasikan secara buruk oleh AS dan menilai pakta itu telah dilanggar secara terang-terangan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres pada Rabu (4/2) memperingatkan bahwa berakhirnya perjanjian New START menandai momen yang berbahaya bagi perdamaian dan keamanan internasional.
New START sendiri merupakan perjanjian pengendalian senjata nuklir yang ditandatangani oleh Rusia dan AS pada 2010. Perjanjian tersebut bertujuan membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis serta sistem pengirimannya. New START mulai berlaku pada 5 Februari 2011 dengan masa awal selama 10 tahun, sebelum kemudian diperpanjang hingga 4 Februari 2026.
Sebelumnya, pada September 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia akan tetap mematuhi batas-batas inti yang ditetapkan dalam New START selama satu tahun setelah perjanjian tersebut berakhir. Namun, kepatuhan itu disyaratkan dengan tidak adanya langkah dari AS yang dinilai dapat merusak keseimbangan strategis yang ada.

