HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kasus seorang siswa kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri karena dipicu dugaan tak mampu beli buku dan pulpen jadi perhatian pemerintah RI. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar alias Cak Imin pun buka suara.
Cak Imin menilai kasus siswa SD di Ngada bunuh diri harus jadi cambuk bagi semua pihak. Menurut dia, insiden itu juga jadi perhatian pemerintah agar tak terulang.
Ia menekankan semua pihak harus lebih peduli dan peka terhadap kebutuhan masyarakat.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya. Kewaspadaan kita, kehati-hatian kita. Semua membuka diri untuk mudah diminta tolong oleh siapapun. Pemerintah juga waspada, masyarakat satu dengan lain harus gotong royong,” kata Cak Imin kepada awak media di Jakarta, Selasa malam, (3/2/2026).
Menurut dia, akar persialan itu mesti didalami. Ia menilai insiden tragis di Ngada juga memperlihatkan ada frustasi sosial yang harus ditemukan solusinya.
Dia menuturkan pentingnya rasa terbuka satu sama lain dengan mengedepankan gotong royong di tengah-tengah masyarakat. Dengan dmeikian, tak ada lagi masyarakat yang mengalami hal serupa.
”Kita cari akar masalah, akar masalah frustasi sosial itu sudah sejauh mana. Tapi, yang penting keterbukaan, gotong royong. Menjadi cambuk kita untuk terus waspada,” ujarnya.
Kritik dari DPR
DPR dari Komisi VIII DPR RI yang membidangi masalah sosial menyampaikan kritik terhadap kasus bocah bunuh diri di Ngada, NTT. Anggota Komisi VIII DPR, Ina Ammania mengatakan kasus bunuh diri siswa kelas IV SD di Ngada dinilai sebagai alarm serius bagi negara.
Menurutnya, penting negara bisa juga menjamin perlindungan dan pemenuhan hak pendidikan anak.
“Ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” kata Ina, dalam keterangannya dikutip pada Rabu, (4/2/2026).
Ina prihatin dengan dugaan pemicu bocah 10 tahun itu nekat bunuh diri karena tak bisa membeli buku dan pulpen seharga Rp10.000
Bagi dia, insiden tragis itu mestinya tak perlu terjadi bila negara hadir memberikan perlindungan kepada anak. Menurut dia, perlindungan anak penting terhadap keluarga tidak mampu.
Sebelumnya, bocah siswa SD di Ngada, NTT, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Bocah itu diduga juga meninggalkan sepucuk surat tulisan tangan untuk ibundanya
Korban diketahui lebih serting tinggal bersama neneknya yang berbeda desa dengan rumah ibunya. Sang ibu korban merupakan orang tua tunggal yang bekerja serabutan.
Dengan kehidupan ekonomi sulit, sang ibu menanggung lima orang anak, termasuk korban.

