Sering Diabaikan, Kebiasaan Ini Justru Penyebab Berat Badan Naik Drastis

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kenaikan berat badan yang terjadi secara drastis dalam waktu singkat masih sering diabaikan oleh kebanyakan orang. Padahal, perubahan berat badan yang cepat dapat menjadi indikator adanya perubahan kebiasaan sehari-hari atau kondisi kesehatan tertentu yang perlu diwaspadai.

Kenaikan berat badan tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berpotensi menunjukkan adanya masalah kesehatan yang mendasar. Oleh karena itu, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memicu kenaikan berat badan secara tiba-tiba sangat penting untuk dilakukan.

- Advertisement -

Berikut ini beberapa kebiasaan yang sering diabaikan, padahal menjadi pemicu naiknya berat badan secara drastis seperti dikutip Holopis.com dari Alodokter Kementerian Kesehatan RI.

1. Perubahan Pola Makan

Pola makan yang berubah drastis, terutama peningkatan konsumsi makanan tinggi kalori, gula, dan lemak, merupakan salah satu penyebab utama kenaikan berat badan secara signifikan.

- Advertisement -

Mengonsumsi makanan cepat saji, gorengan, minuman manis, dan camilan olahan cenderung memiliki kandungan energi yang tinggi. Ketika asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh, kelebihan energi tersebut akan disimpan sebagai lemak, sehingga berat badan meningkat dengan cepat.

2. Kurang Aktivitas Fisik

Kurangnya aktivitas fisik memperlambat pembakaran kalori harian. Kebiasaan duduk dalam waktu lama, minimnya gerak tubuh, atau kurangnya olahraga dapat menyebabkan tubuh menyimpan lebih banyak energi sebagai lemak. Selain itu, kurang bergerak dapat menurunkan massa otot, yang berdampak pada metabolisme tubuh yang makin lambat.

3. Kurang Tidur

Kualitas dan durasi tidur memainkan peran penting dalam regulasi hormon yang berkaitan dengan nafsu makan. Kekurangan tidur dapat meningkatkan hormon yang merangsang nafsu makan (ghrelin) dan menurunkan hormon yang memberi rasa kenyang (leptin), sehingga meningkatkan keinginan untuk makan lebih banyak, terutama makanan tinggi gula dan lemak.

4. Stres yang Tidak Terkontrol

Stres kronis dapat memicu peningkatan produksi hormon kortisol, yang dapat mempengaruhi perilaku makan dan pola penyimpanan lemak dalam tubuh, terutama di area perut. Orang yang mengalami stres sering kali cenderung memilih makanan tidak sehat sebagai mekanisme coping, yang pada akhirnya turut berkontribusi pada kenaikan berat badan.

5. Gangguan Hormon

Gangguan hormon seperti hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif) dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) dapat memperlambat metabolisme dan meningkatkan resistensi insulin. Kondisi ini mendorong tubuh menyimpan lebih banyak lemak dan menyebabkan kenaikan berat badan yang signifikan, meskipun pola makan dan aktivitas fisik tidak berubah drastis.

6. Efek Samping Obat

Beberapa jenis obat dapat menyebabkan kenaikan berat badan sebagai efek samping. Obat-obatan seperti kortikosteroid, antidepresan, pil kontrasepsi, obat diabetes, dan beberapa terapi tekanan darah tinggi dapat mempengaruhi nafsu makan, metabolisme, atau retensi cairan, sehingga berkontribusi terhadap kenaikan berat badan secara cepat.

7. Retensi Cairan (Edema)

Kenaikan berat badan yang cepat tidak selalu berarti peningkatan lemak tubuh. Dalam beberapa kasus, berat badan dapat naik karena retensi cairan, yang bisa dipicu oleh gangguan jantung, ginjal, atau konsumsi garam berlebihan. Retensi cairan sering kali terlihat lewat pembengkakan di kaki, pergelangan tangan, atau wajah.

8. Faktor Usia

Seiring bertambahnya usia, metabolisme tubuh cenderung melambat dan massa otot menurun. Hal ini membuat kalori yang dibakar tubuh lebih sedikit dibanding saat usia lebih muda. Jika pola makan tidak disesuaikan, kecenderungan penumpukan lemak dan kenaikan berat badan pun meningkat.

9. Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik merupakan kondisi yang ditandai oleh resistensi insulin, kadar gula darah tinggi, dan ketidakseimbangan lemak darah. Kondisi ini memengaruhi cara tubuh mengolah energi sehingga lebih banyak glukosa disimpan sebagai lemak, terutama di area perut. Sindrom metabolik tidak hanya memicu kenaikan berat badan, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik.

Meskipun beberapa faktor di atas merupakan bagian dari perubahan gaya hidup, kenaikan berat badan yang terjadi secara cepat dan tidak disertai perubahan pola makan atau aktivitas fisik perlu mendapatkan perhatian medis.

Terlebih jika disertai gejala tambahan seperti pembengkakan ekstrem, sesak napas, nyeri dada, perubahan menstruasi, atau kelelahan yang signifikan. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan profesional dapat membantu menentukan penyebab yang mendasari dan memberikan penanganan yang tepat.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis