HOLOPIS.COM, JAKARTA – Visinemas Studios resmi merilis teaser poster terbaru film Na Willa yang akan tayang di bioskop Indonesia pada Lebaran 2026. Poster ini mengajak penonton melangkah lebih dekat ke dunia Na Willa, sebuah dunia yang dilihat dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun, di mana hal-hal sederhana terasa besar, ajaib dan penuh imajinasi.
Berbeda dari poster sebelumnya, teaser poster terbaru Na Willa menangkap bagaimana seorang anak memandang dunia di sekitarnya. Tubuh Na Willa terasa kecil, sementara benda-benda yang akrab dalam keseharian seperti kaleng kerupuk, radio, hingga buah pisang hadir dalam skala yang terasa raksasa, magis dan sinematik. Inilah petunjuk awal tentang perasaan yang akan dibawa film ini saat ditonton di bioskop keajaiban-keajaiban kecil yang lahir dari cara anak memaknai dunia.
Karakter utama Na Willa yang diperankan Luisa Adreena, sangat menyukai pisang dan mendengarkan radio. Kedua benda itu pun dimunculkan dalam teaser poster yang menggemaskan dan terasa magical dalam dunia realis. Sementara itu, tangan Na Willa menggapai tutup kaleng kerupuk yang dilihatnya begitu besar.
“Lewat sudut pandang Na Willa, kami ingin mengajak penonton kembali merasakan bagaimana melihat dunia dengan rasa kagum seperti anak-anak di dalam diri kita yang penuh imajinasi, rasa ingin tahu, dan kehangatan yang kerap terlupakan seiring bertambahnya usia,” ujar Anggia Kharisma, produser Na Willa.
Na Willa digarap oleh tim kreator Jumbo, film mega blockbuster Indonesia yang meraih lebih dari 10 juta penonton. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Ryan Adriandhy, dengan Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai produser.
Film ini dibintangi oleh pendatang baru Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama Irma Rihi (nominasi Aktris Pendukung Terbaik Film Pilihan Tempo 2024) sebagai Mak, serta Junior Liem sebagai Pak. Selain itu, turut bermain Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia dan Putri Ayudya.
Na Willa merupakan film live-action pertama yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy, yang juga merupakan penulis naskah. Lewat Na Willa, ia ingin mengajak penonton menyusuri Indonesia di era 1960-an dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun — ketika dunia kecil terasa luas dan penuh kemungkinan.
“Dari kacamata anak, hal-hal sederhana seperti rumah, gang, radio, atau kaleng kerupuk bisa terasa hidup dan magis. Perspektif inilah yang ingin kami hadirkan bagaimana cara melihat dunia dengan rasa ingin tahu, imajinasi dan kepekaan yang jujur,” sebutnya.
Na Willa sendiri mengisahkan Willa, gadis kecil enam tahun yang percaya dunia kecilnya di sebuah gang di Surabaya adalah tempat paling sempurna dan magis. Tempat di mana lagu dari radio terasa hidup, kios langganan yang selalu penuh kejutan dan setiap hari adalah hari untuk berpetualang bersama teman-temannya.
Namun ketika sahabatnya mengalami kecelakaan dan satu per satu teman bermainnya mulai masuk sekolah, dunia Willa perlahan berubah dan terasa semakin sepi, membuat Willa bertekad mengikuti teman-temannya ke bangku TK, dengan harapan semua bisa kembali seperti semula.
Masuk sekolah justru membuka dunia baru yang terasa asing: penuh aturan, batasan, dan rasa tidak dimengerti. Di sanalah Willa perlahan belajar bahwa tumbuh berarti berdamai dengan perubahan. Bahwa keajaiban tidak selalu hilang hanya berpindah tempat.

