Ini Isi Lengkap Pengumuman MSCI yang Bikin Pasar Saham RI Berdarah-darah

13 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pasar saham Indonesia berdarah-darah setelah pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang memicu aksi jual besar-besaran.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas lebih dari 6 persen pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026), hingga sempat menyentuh level terendah 8.596,17.

- Advertisement -

Tekanan tajam tersebut dipicu oleh keputusan MSCI terkait perubahan metodologi penghitungan free float yang berdampak langsung pada status dan bobot saham Indonesia di indeks global.

Tiga Keputusan Penting MSCI untuk Indonesia

Dalam pengumuman yang dipublikasikan Selasa (27/1) waktu setempat, MSCI menetapkan perubahan dalam index review Februari 2026 yang bersifat sementara khusus untuk pasar Indonesia.

- Advertisement -

Terdapat tiga poin utama yang menjadi sorotan:

  1. Pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
  2. Pembekuan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
  3. Pembekuan perpindahan naik antar segmen ukuran indeks, termasuk dari kategori Small Cap ke Standard.

Langkah ini membuat saham-saham Indonesia praktis tidak bisa memperoleh peningkatan bobot di indeks MSCI dalam waktu dekat.

Dalam keterangannya, MSCI menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas indeks sekaligus meredam risiko terkait kelayakan investasi di pasar Indonesia.

“Perawatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko pergantian indeks dan risiko kelayakan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar yang berwenang untuk menerapkan perbaikan transparansi yang signifikan,” tulis pengumuman MSCI, dikutip Holopis.com, Rabu (28/1/2026).

Ancaman Evaluasi Status Pasar Indonesia

MSCI juga memberi peringatan bahwa jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, maka status akses pasar Indonesia akan dievaluasi ulang.

Evaluasi tersebut dapat berujung pada penurunan bobot seluruh sekuritas Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index. Bahkan, Indonesia berpotensi direklasifikasi dari Pasar Emergen (Emerging Market) menjadi Pasar Frontier (Frontier Market), sebuah langkah yang bisa memicu arus keluar dana asing lebih besar.

“MSCI akan terus memantau perkembangan di pasar Indonesia dan berkoordinasi dengan peserta pasar dan otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IDX. MSCI akan mengkomunikasikan tindakan lebih lanjut sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Isu Transparansi Free Float

Sebelumnya, pada Oktober 2025, MSCI telah meminta masukan pelaku pasar mengenai rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang diterbitkan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam perhitungan free float.

Namun, hasil konsultasi menunjukkan investor global masih menyoroti persoalan mendasar di pasar Indonesia, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham.

“Investor menyoroti bahwa masalah fundamental terkait kelayakan investasi tetap ada akibat ketidakjelasan struktur kepemilikan saham yang berkelanjutan dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat,” ungkap pengumuman tersebut.

MSCI juga menekankan perlunya data kepemilikan yang lebih detail dan dapat diandalkan guna mendukung penilaian free float secara akurat.

“Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, diperlukan untuk mendukung penilaian yang kokoh terhadap free float dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia,” pungkasnya.

Dampak ke Pasar Modal Indonesia

Keputusan MSCI ini menjadi sentimen negatif besar bagi pasar modal Indonesia karena indeks MSCI menjadi acuan utama bagi banyak investor institusi global. Pembekuan kenaikan bobot saham Indonesia berpotensi menghambat aliran dana asing (capital inflow), sekaligus meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kini menanti respons regulator, termasuk OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan KSEI, untuk mempercepat perbaikan transparansi dan struktur data kepemilikan saham guna menjaga posisi Indonesia dalam indeks global.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
13 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis