HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bagi banyak orang, menjadi anak perempuan pertama adalah sebuah kebanggaan. Namun, di balik predikat “si paling bisa diandalkan” tersimpan beban emosional yang kerap kali tak kasat mata. Istilah Eldest Daughter Syndrome kini mulai marak dibicarakan sebagai representasi dari tekanan psikologis yang dialami para anak sulung perempuan.
Secara singkat, fenomena ini menggambarkan bagaimana anak perempuan pertama sering kali dipaksa dewasa sebelum waktunya. Mereka tidak hanya menjadi kakak, tetapi juga “orang tua kedua” bagi adik-adiknya dan pilar emosional bagi keluarga.
Sains di Balik Tekanan Si Sulung
Bukan sekadar perasaan subjektif, tekanan ini ternyata memiliki kaitan biologis. Studi dari UCLA mengungkapkan bahwa anak perempuan sulung cenderung mengalami pubertas adrenal lebih awal, terutama jika sang ibu mengalami stres berat saat masa kehamilan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa tuntutan lingkungan sejak dini dapat memengaruhi perkembangan biologis seorang anak. Akibatnya, Sobat Holopis mungkin lebih terbiasa “mengurus” daripada “diurus,” yang kemudian terbawa hingga dewasa.
Kenali Tanda Eldest Daughter Syndrome
Eldest daughter syndrome memengaruhi pola pikir dan cara seseorang menjalin hubungan. Berikut adalah beberapa ciri yang sering muncul:
• Rasa Tanggung Jawab Berlebih
• Perfeksionisme
• Sulit Meminta Bantuan
• Kecemasan dan Rasa Bersalah
• Krisis Identitas
Cara Mengurai Beban dan Memprioritaskan Diri
Memahami bahwa kondisi ini sedang terjadi adalah langkah awal menuju pemulihan. Berikut adalah cara agar Sobat Holopis bisa mulai mengambil kendali atas hidup sendiri:
Tetapkan Batasan yang Sehat (Healthy Boundaries)
Belajarlah untuk berkata “tidak” tanpa rasa bersalah. Menetapkan batasan bukan berarti Sobat Holopis tidak sayang, melainkan bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental.
Cari Dukungan (Support System)
Jangan memikul semuanya sendiri. Berbagi cerita dengan teman yang memahami kondisi ini dapat memberikan perspektif baru dan rasa lega.
Temukan Kembali Identitas Diri
Mulailah mengeksplorasi hobi atau impian yang sempat tertunda karena urusan keluarga. Ingat, Sobat Holopis adalah individu yang utuh, bukan sekadar “kakak” atau “asisten rumah tangga.”
Konsultasi dengan Profesional
Jika beban emosional terasa terlalu berat, bantuan dari psikolog atau terapis dapat membantu Sobat Holopis mengubah pola pikir yang toksik menjadi lebih sehat.
Menjadi anak perempuan pertama memang menantang, namun bukan berarti Sobat Holopis harus mengorbankan kebahagiaan sendiri. Karena setiap individu berhak untuk tidak selalu menjadi yang terkuat dan sangat layak untuk merasa bahagia.

