Menjelajahi Pipilaka Calling, Destinasi Wisata Teknologi Imersif Jakarta


Oleh : Dede Suhadi

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pernahkah Anda membayangkan masuk ke dalam dunia koloni semut yang canggih, penuh warna, dan bisa bernyanyi? Di lantai 5 Gedung Sarinah, Thamrin, imajinasi itu menjadi nyata.

Pameran Pipilaka Calling bukan sekadar pameran seni biasa acara ini adalah sebuah "panggilan" bagi warga urban untuk kembali peduli pada bumi melalui kacamata teknologi.

Dibuka hingga 8 Maret 2026, pameran ini menarik perhatian petinggi negara. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dan Wakil Menteri Irene Umar bahkan menyempatkan diri untuk "nyanyi bareng" karakter IP lokal ini pada Rabu (21/1/2026).

Nama Pipilaka diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti Semut. Filosofinya sederhana namun mendalam yaitu Gotong Royong. Di sini, pengunjung diajak melihat bagaimana kekuatan kecil jika bersatu bisa memberikan dampak besar bagi lingkungan.

5 Ruang Ajaib yang Wajib Dijelajahi

Berbeda dengan galeri yang hanya memperbolehkan kita melihat, Pipilaka Calling memaksa pengunjung untuk berinteraksi melalui 5 ruang pamer edukatif:

  1. Hutan Pipilaka: Ruang bercerita di mana karakter Pipilaka menjadi storyteller yang mengajak audiens merefleksikan isu sosial.
  2. Immersive Concert: Konser digital di mana pengunjung bisa menari dan bernyanyi bersama proyeksi audiovisual yang memukau.
  3. Zona Kreatif: Tempat bagi anak-anak (dan dewasa!) untuk mewarnai tokoh-tokoh Pipilaka secara digital.
  4. Interaktif Audio-Visual: Ruang teknologi yang menggabungkan pesan moral dengan hiburan kelas dunia.
  5. Pojok Merchandise: Dari jaket hingga bantal, semua didesain dengan karakter IP lokal yang menggemaskan.

Wahyadi Liem, founder Pipilaka Foundation, menjelaskan bahwa pemilihan Sarinah bukan tanpa alasan. Sebagai bangunan bersejarah yang kini menjadi pusat kreativitas, Sarinah sangat mudah diakses menggunakan transportasi publik seperti MRT dan TransJakarta.

"Kami ingin Pipilaka tidak hanya menghibur, tapi juga menjadi cara baru belajar tentang lingkungan tanpa merasa sedang digurui," ujar Eno Sigit, co-founder Pipilaka Foundation.

Kehadiran Kementerian Ekraf mempertegas bahwa Kekayaan Intelektual (IP) lokal seperti Pipilaka memiliki potensi besar untuk bersaing secara global. Dengan menggabungkan narasi yang kuat (kepedulian lingkungan) dan teknologi terkini, Pipilaka Calling membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu menyajikan pengalaman imajinatif yang tak terlupakan.

Tampilan Utama