Kiai Lutfi Sebut Ramadan Tak Sekadar Ritual, Tapi Momen Benahi Iman dan Akhlak


Oleh : Redaktur

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Pengasuh Pondok Pesantren Riyadussalikin Padaherang Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, KH Lutfi Fauzi menyampaikan pesan penting kepada umat Islam agar Ramadan 1447 H tidak dijalani sekadar sebagai rutinitas tahunan, melainkan ruang pertaubatan dan pembenahan batin.

"Ramadhan itu madrasah kehidupan. Kalau hanya menahan lapar dan haus, tapi hati tetap kotor, maka yang didapat hanya letih," ujar Kyai Haji Luthfi Fauzi dalam siaran persnya, Jumat (23/1/2026).

Menurut kiai Luthfi Fauzi, Ramadan sejatinya hadir untuk meluruskan kembali arah hidup manusia dari yang semula sibuk mengejar dunia, menjadi lebih sadar akan nilai akhirat dan kemanusiaan.

"Puasa itu bukan hanya ibadah fisik. Ia mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kepekaan sosial. Kalau Ramadhan tidak mengubah sikap kita kepada sesama, maka puasanya perlu dipertanyakan," tuturnya.

Ia menyoroti kondisi sosial hari ini yang mudah panas, mudah tersulut emosi, bahkan saling melukai melalui kata-kata. Apalagi Ramadan, kata dia, harus menjadi rem darurat bagi hawa nafsu, termasuk di ruang digital.

Di lingkungan Pondok Pesantren Riyadussalikin, persiapan menyambut Ramadan 1447 Hijriyah atau 2026 Masehi dilakukan dengan memperkuat kegiatan keagamaan, pengajian kitab, serta pembiasaan ibadah berjamaah. Para santri didorong untuk tidak hanya memperbanyak amalan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial.

"Santri harus hadir sebagai penyejuk. Ramadhan adalah panggung akhlak, bukan ajang pamer ibadah," tegas Kyai Luthfi Fauzi.

Oleh sebab itu, ia menaruh harapan besar agar para santri dan alumni Ponpes Riyadussalikin dapat menjadi contoh Islam yang ramah, rendah hati, dan membumi di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Kyai Haji Luthfi Fauzi mengingatkan pentingnya menata niat sejak jauh hari. Menurutnya, kesiapan batin jauh lebih menentukan kualitas Ramadhan dibandingkan persiapan seremonial semata.

“Kalau niat sudah lurus, ibadah akan terasa ringan. Tapi kalau niat masih bercampur dengan riya dan ingin dipuji, Ramadhan bisa berlalu tanpa bekas,” ujarnya.

Ia juga mengajak umat untuk saling memaafkan, memperbaiki hubungan keluarga, dan membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.

Menutup pesannya, Kyai Haji Luthfi Fauzi berharap Ramadhan 2026 menjadi titik balik akhlak dan kesadaran spiritual umat Islam, khususnya generasi muda. Ramadhan segera datang. Pertanyaannya bukan lagi soal siap atau tidak secara lahiriah, tetapi sejauh mana hati benar-benar siap menerima cahaya perubahan.

“Ramadhan itu singkat. Tapi dampaknya harus panjang. Kalau setelah Ramadhan kita masih mudah marah dan sulit jujur, berarti ada yang keliru dalam ibadah kita,” pungkasnya.

Tampilan Utama