Banjir Jakarta dan Sampah Kiriman: Seberapa Efektif Saringan TB Simatupang?
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus perkuat upaya untuk pengurangan risiko banjir yang sudah terjadi sejak Kamis pagi di sejumlah wilayah. Upaya itu melalui penanganan sampah di badan air secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Pemprov DKI melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta terus perkuat upaya pengurangan risiko banjir melalui penanganan sampah di badan air. Salah satu langkah strategis dengan mengoptimalkan pengoperasian Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS) sebagai penyaring awal sampah kiriman sebelum memasuki aliran sungai di wilayah Jakarta.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan peningkatan intensitas hujan berpotensi membawa sampah dari wilayah hulu. Kondisi itu menyebabkan penyumbatan sungai maupun saluran air. Maka itu, SSTBS mesti dioptimalkan sebagai garda terdepan untuk menahan sampah agar tak perparah kondisi banjir di Jakarta.
Dia menuturkan melalui SSTBS, material padat seperti plastik, kayu, dan berbagai jenis sampah lainnya bisa tertahan sejak awal.
"Sampah yang terkumpul kemudian diangkut secara berkala oleh petugas agar tidak terjadi penumpukan dan aliran air tetap lancar,” kata Asep dikutip dari laman resmi Pemprov DKI, Jumat, (23/1/2026).
Menurut Asep, penanganan ini jadi bagian penting dari strategi pengelolaan sampah badan air sejak titik perbatasan kota. Dengan demikian, langkah penanganan sampah pada musim hujan bisa dilakukan secara lebih cepat, efektif, dan berkelanjutan.
Asep menyampaikan selain mengoperasikan SSTBS, DLH DKI juga bakal menerapkan pola penanganan khusus selama musim penghujan. Upaya itu dengan menyiagakan Unit Pengelola Sampah Badan Air (UPSBA) di sembilan titik rawan banjir.
Dia menuturkan upaya itu dengan perkuat optimalisasi 29 unit saringan sampah otomatis. Selain itu, dukungan sarana pendukung berupa kubus apung, bus toilet, tangki air, dan toilet portabel.
Lebih lanjut, Asep menyampaikan untuk percepat penanganan di lapangan, DLH DKI juga menyiagakan 1.790 personel pasukan orange. Ribuan personel itu didukung sarana dan prasarana berupa 101 unit truk pengangkut sampah.
"116 unit alat berat, 15 perahu karet, 25 bus toilet, dan 48 toilet portabel, serta ribuan peralatan kerja seperti cangkrang, cangkul, sapu, dan plastik sampah,” jelas Asep.
Kemudian, ia bilang dari DLH DKI juga berkomitmen melakukan penanganan sampah secara cepat, terintegrasi, dan terkoordinasi. Langkah itu untuk mendukung pemulihan lingkungan, khususnya di wilayah terdampak banjir. Pun, ia menambahkan pentingnya partisipasi aktif masyarakat yang jadi kunci dalam menekan risiko banjir.
“Dengan disiplin membuang sampah pada tempatnya, masyarakat turut berperan menjaga lingkungan sekaligus bersama-sama mengurangi risiko banjir di Jakarta,” tutur Asep.