Laporan PBB Peringatkan Dunia Masuki Era ‘Kebangkrutan Air Global’


Oleh : Darin Brenda Iskarina

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis Selasa (20/1) memperingatkan bahwa dunia tengah memasuki fase yang disebut sebagai ‘kebangkrutan air global’. Kondisi ini ditandai oleh kerusakan sistem air yang dinilai sudah melampaui tahap krisis di banyak wilayah.

Laporan tersebut diterbitkan oleh United Nations University Institute for Water, Environment and Health, dan menyoroti penurunan cadangan air tanah secara kronis, penggunaan air yang berlebihan, degradasi lahan, deforestasi, serta pencemaran. Seluruh faktor itu disebut semakin diperparah oleh dampak perubahan iklim, hingga mendorong banyak wilayah melampaui batas hidrologisnya.

Dalam laporan itu dijelaskan bahwa istilah yang selama ini digunakan, seperti ‘stres air’ atau ‘krisis air’, tidak lagi mampu menggambarkan kondisi aktual. Sistem air di sejumlah kawasan dinilai telah memasuki tahap pascakrisis, di mana kerusakan yang terjadi bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan ke kondisi historis sebelumnya.

“Laporan ini mengungkapkan kebenaran yang tidak mengenakkan: Banyak wilayah hidup melebihi kapasitas hidrologis mereka, dan banyak sistem air penting telah mengalami kebangkrutan,” ujar Kaveh Madani, dikutip Holopis.com, Kamis (22/1).

Meski tidak semua cekungan sungai dan negara telah mencapai kondisi tersebut, Madani menuturkan bahwa jumlah sistem air utama yang telah melampaui ambang batas cukup besar sehingga mengubah peta risiko global.

Laporan itu juga mencatat penyusutan cepat pada perairan permukaan dan lahan basah. Lebih dari separuh danau besar di dunia dilaporkan mengalami penurunan volume air sejak awal 1990-an, yang berdampak langsung pada sekitar seperempat populasi global.

Selain itu, penurunan cadangan air tanah dan fenomena amblesan tanah menunjukkan bahwa sumber daya air bawah tanah terus terkuras. Sekitar 70 persen akuifer utama di dunia mengalami penurunan jangka panjang, sementara dampak amblesan tanah akibat pemompaan air tanah berlebihan kini dirasakan oleh hampir dua miliar orang.

Penurunan kualitas air turut memperburuk situasi. Pencemaran disebut semakin mengurangi ketersediaan air yang layak digunakan dan mempercepat laju kebangkrutan sistem air di berbagai wilayah.

Melalui laporan tersebut, PBB mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk beralih dari pendekatan respons krisis jangka pendek menuju apa yang disebut sebagai ‘manajemen kebangkrutan air’. Langkah yang disarankan mencakup pengurangan dan pengalokasian ulang permintaan air, pengetatan pengendalian polusi serta eksploitasi ilegal, dan penetapan ulang agenda air global menjelang Konferensi Air PBB 2026.

Tampilan Utama